Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2011

DIK AFA CANTIK YA


 “ Bulek, Dik Afa cantik, ya!” 

Tiba-tiba saja dia sudah muncul di belakangku sambil mengenakan jilbab barunya. Jilbab warna merah yang baru saja aku belikan untuknya.

“ Subhanallaah, Dik Afa cantik deh pakai jilbab merah. Wuiih ada kumbangnya lagi. Suka, ya? sambil aku cubit pipinya.

“ Iya, suka.” sambil bercermin, dia pun bergaya putar sana putar sini.

“ Dik Afa cantik kayak siapa coba?” kulayangkan senyum untuknya.

“ Kayak Bulek.” Gubrakkk!! Kaget juga nih dia bilang begitu.

“ Masak sih kayak Bulek. Emang Dik Afa itu anaknya siapa sih?”

“ Anaknya Bulek.” Aku jadi tersenyum sendiri. Ada-ada saja nih anak.

Tiba-tiba…

“ Bulek, Bulek lagi ngapain?”

“ Bulek lagi buat tulisan. Dik Afa nggak bobok, nih? 

“ Dik Afa belum ngantuk. Dik Afa nunggu Bulek aja.”

“ Lho, Bulek masih lama, sayang.”

“ Bialin, Dik Afa mau tidul sama Bulek.”

“ Biasanya kalau nggak ada Bulek, Dik Afa tidur sama siapa? 

“ Sama Mbak Ais, kadang sama Ayah atau Ibu.”

 “ Bulek tidul dimana?” dia balik bertanya padaku.

“ Kalau Bulek sih tidurnya di kamar ini. Kenapa?”

“ Ya udah, Dik Afa tidul disini aja sama Bulek.”

“ Kangen ya sama Bulek, hayo ngaku...” he he

“ Nanti kalau dicari-cari Ibu gimana? Mana nih Afa kok belum tidur, gimana coba?”

“ Bialin, pokoknya Dik Afa maunya sama Bulek.”

“ Bulek tuh masih lama, PR-nya Bulek banyak. 

“ PL itu apa?”

“ PR bukan PL. Coba bilang eerrrrr….”

“ eellll…” 

“ PR.”

“ PL.” sambil menunjukkan lidahnya ke aku. Afa afa, lucu juga nih anak. Masih cadel rupanya. 

“ PR itu singkatan dari Pekerjaan Rumah. Jadi Bulek ada tugas yang harus diselesaikan di rumah dan harus dikumpulkan besok. Ok! Sekarang Dik Afa segera tidur ya, sudah malam sayang!”

“ Nggak mau, maunya sama Bulek.”

Yah Afa, tugasnya Bulek belum kelar nih. Gemes deh Bulek jadinya. Kucubit kedua pipinya eh…malah dia ketawa. Menggemaskan.

DIK AFA MASIH KECIL



“ Bulek, bulek jangan lama-lama ya pulangnya!” pinta Afa ketika aku berpamitan dengannya. 

“ Lho, kok nggak boleh lama-lama? Emang kenapa Dik Afa? ” tanyaku pengin tahu.

“ Soalnya Bulek kalau pulang, kesininya lama. Dik Afa pelnah nunggu Bulek lama nggak datang-datang.”

“ Oh ya, kok Dik Afa nggak telpon Bulek? “

“ Dik Afa nggak tahu nomelnya Bulek.”

“ Kan bisa nanya tuh sama Mbak Ais atau Mbak Fia.”

Dia tersenyum sambil memperlihatkan giginya. 

“ Dik Afa nggak bisa telpon.”

“ Kalau Dik Afa nggak bisa telpon, minta tolong Mbak Ais atau Mbak Fia suruh telpon Bulek dan bilang kalau Dik Afa kangeeen sekali sama Bulek.”

Dia diam saja mendengarkan penjelasanku. Jadi nggak tega nih mau meninggalkannya.

“ Ya udah, Bulek nggak jadi pulang, deh.” 

“ Bulek nginep sini, ya?” 

“ Iya, Bulek nginep sini.” 

“ Asyiikk!! Bulek nginep sini.” Aduhh… senengnya jadi tambah gemes, deh.

“ Dik Afa, bilangnya apa coba.  Alhamdulillah…”

“ Gendong, Bulek…!! Nah, ini dia yang tidak pernah lupa setiap kali aku di rumah Kakakku. Pasti deh, minta gendong.

“ Dik Afa kan sudah besar, sudah sekolah. Trus kata Ayah, Dik Afa sudah bisa mandi sendiri, sudah bisa pakai baju sendiri. Sekarang kok minta gendong. Idiih…malu, iih.”

“ Enggak, Dik Afa masih kecil.”

“ Lho, kemarin kan Dik Afa sendiri yang bilang, kalau Dik Afa sudah besar.”

“ Enggak.”

“ Iya. Kemarin Dik Afa pernah bilang sama Bulek.”

“ Enggak, Buleeek!! Dik Afa masih kecil.”

“ Yang masih kecil itu Dik Ifa,” kataku setengah menggoda. 

Ifa itu adiknya Afa. Aku sendiri sempat bingung karena nama panggilannya hampir sama, umurnya pun selisihnya juga nggak jauh-jauh amat.

 “ Bukan, Dik Afa yang masih kecil.” 

Dia tetep aja ama pendiriannya. Nah tuh, dah mulai cemberut nih dia. Ya, gitu deh Afa kalau udah ada maunya.

Senin, 14 Maret 2011

SERAYA MENEMUKAN MAINAN BARU

Afa dan Azril
  Mmmmoooo….!!!
“Bulek, suala apa itu?” tanya Afa sambil melototkan matanya. Matanya yang bulat jadi tambah bulat. Alisnya semakin terangkat. Mungkin baru sekali ini dia dengar suara sapi. Maklum, selama ini dia hidup di kota.
“ Oh.., itu suara sapi, dik Afa,” jawabku sambil tersenyum.
Afa adalah keponakanku yang nomor lima dari Kakakku yang pertama. Umurnya kurang lebih 3,5 th. Dia sudah pintar bicara hanya belum bisa bilang ‘ r ‘  he..he..he
  
“ Bulek, Dik Afa pengin lihat sapi?” pintanya sambil menarik-narik tanganku.
Belum sempat aku menjawab, eh..ternyata Kakak-kakaknya sudah duluan memanggilnya.
“Dik Afaaa.., lihat sapi, yuk!” teriak mereka sambil berlari menuju kandang sapi di samping rumah.
Tanpa pikir panjang, Afa langsung lari mengikuti mereka. Aku tersenyum dibuatnya.
“Dik Afa…Dik Afa...”
Hari ini, kami sekeluarga bersilaturrahim ke rumah mertuanya adikku. Mumpung liburan. Kebetulan istrinya melahirkan anak yang pertama cucu yang ke empatbelas dari Ibuku. Sebenarnya, rumahnya tidak terlalu jauh dari jalan raya, sekitar 400 meteran. Mungkin karena mereka memelihara sapi, jadi kesannya seperti di desa. Apalagi di sekitar rumah, banyak berkeliaran bebek putih. Disini sawah masih membentang luas, beda dengan di kota.
“ Buleek…!” suara Afa mengagetkanku.
“ Tadi, Dik Afa lihat sapi, buaanyak!” Sambil tangannya membuat lingkaran besar.
“ Banyak ya? Coba ada berapa sapinya?”
“ Ada tiga, Bulek!” dengan semangat, Afa menunjukkan jarinya kelima-limanya. Lagi-lagi aku tersenyum dibuatnya.
“Dik Afa, kalau tiga itu begini,” kutunjukkan jari-jariku berjumlah tiga.
Dia tersenyum malu sambil memperlihatkan gigi-giginya yang mulai menghitam karena kebanyakan makan permen.
“Trus, ada apa lagi disana?” tanyaku sambil tersenyum.
“Ada sapi, ada lumput, ada makanan…” sambil menghitung dengan jari-jarinya. Sementara matanya melirik ke kanan dan ke kiri, mengingat-ingat kalau ada yang ketinggalan belum disebutkan.
Aku coba bertanya lagi, “Kalau makanannya sapi itu apa sih, Dik Afa?”
“Lumput, Bulek,” jawabnya sambil ketawa. Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.
Kwek.. kwek… kwekkkk…!!!
“Buleek, apa itu?!” sambil menunjuk ke arah bebek-bebek itu.
Benar juga, ada segerombolan bebek berwarna putih sedang asyik berkejar-kejaran dengan teman-temannya. Kelihatannya mereka sedang cari makan.
“Oh.., itu namanya bebek. Kenapa, Dik Afa?”
“Dik Afa, pengin kesana. Lihat sama Mbak Ais, ya, Bulek?” (Mbak Ais, Kakaknya yang sulung)
“Ya sudah, kalau gitu Bulek ikutan. Bulek pakai sandal dulu, ya!”
Belum sempat aku pakai sandal, eh...dia sudah lari duluan. Biasanya dia minta ‘gendong’. Jadilah aku lari mengejarnya.
“Buleek! Lihat, bebeknya banyak sekali!”
Bebek-bebek itu sedang asyik bermain di pinggir selokan yang tidak penuh air. Tenang dan dengan cuweknya sambil sesekali bebek-bebek itu menjulurkan paruhnya ke dalam air.
“Buleek…Buleeek!! sambil teriak-teriak. Itu, bebeknya lagi minum!”
“Bebeknya lagi cali makan, Bulek!” Afa pun menyahut tidak mau kalah.
Senang sekali dia, seraya menemukan mainan baru. Mainan yang belum pernah dia lihat selama ini. Matanya berbinar-binar bak bintang kejora. Suaranya ramai sekali, berbaur dengan suara bebek dan teriakan Kakak-kakaknya. Semangat sekali mereka. Jadi ketawa sendiri, aku.
Tak seberapa lama kemudian, aku mengajak mereka untuk segera kembali. Matahari mulai meninggi bertanda hari sudah semakin siang. Panaspun terasa menyengat kulitku. Lagian perutku sudah berbunyi berkali-kali, ingin segera minta diisi. Apakah mereka nggak merasa lapar atau kepanasan seperti aku? Apakah karena asyiknya bermain dengan bebek-bebek itu lantas tidak merasakan apa-apa?
“Sudah ya! Pulang, yuk!”
 “Nggak mau, entar dulu!” jawab mereka serentak.
“Bulek, sudah capek nih!” pintaku. Aku mulai kehabisan tenaga karena mengejar-ngejar Afa yang semakin cepat larinya. Dia masih perlu diawasi geraknya.
“Pulang, yuk!” sekali lagi aku meminta.
Nggak ada jawaban. Eh.., aku dicuwekin begitu saja. Saking asyiknya bercanda sama bebek-bebek itu, mereka sudah nggak mendengar lagi ajakanku.
“Capek, deeh. Sabar…sabaar!” batinku.
“Buleek! Bebeknya difoto dulu, ya!"
Aku diam saja, sambil bengong melihat mereka asyik bercengkrama dengan bebek-bebek itu.
“Ayo, Buleeek ?!”
“Iya…iya!” Tahu aja mereka kalau aku bawa kamera.
“Oke, siap-siap ya!” Akhirnya aku foto mereka dengan bebek-bebek itu.
“Satu…dua…tiga!”
“Klik!” kamera kuarahkan ke mereka.
“Hayoo…, mana senyumnya?!” Jadilah mereka bergaya seperti artis masuk desa he...he... Ternyata keponakanku pada narcis semua, kayak Buleknya. Aku tersenyum dalam hati.
“Satu…dua…tiga!”
“Klik!”
Kufoto mereka bersama bebek-bebek itu. “Ah…, melihat tingkah polah dan senyum mereka, capekku jadi hilang deh, he..he..”
***
Ketika kami sedang asyik makan, tiba-tiba dikejutkan dengan keluarnya anak-anak sapi dari kandang sebelah rumah. Sapi-sapi itu lari sekencang-kencangnya seperti dikejar setan. Kami semua ketawa melihat pemandangan itu. Ibu mertua adikku bilang kalau pintu kandang sapinya lupa nggak ditutup lagi.
“Iya, tadi pintunya nggak aku tutup,” jawab Azril sambil makan.
Kami semua kaget dengan pengakuan Azril. Eh…tapi Azril malah tenang-tenang saja sambil meneruskan makannya.
“Tadi…tadi pas aku lihat, talinya udah longgar, kan kalau talinya udah longgar, sapinya bisa lari sendiri, Bulek,” Azril menambahkan.
“Cerdas juga dia,” batinku mengiyakan.
“Nggak apa apa, nanti sapinya bisa pulang sendiri kok,” Ibu mertuanya adikku menegaskan sambil tersenyum pada Azril.
“Haah? Sapi bisa pulang sendiri?”
“Emang tahu rumahnya?”
“ Kalau masih kecil, sapi itu masih bisa mengingat dimana rumahnya. Jadi bisa balik sendiri nanti,” tegas beliau.
Kami semua tertawa bersama.    
Wallahu a’lam bis shawab