Rabu, 28 September 2011

TERSENYUMLAH

Sore yang penat. Entah kenapa, rasanya aku tak bisa tersenyum barang sebentar. Capek, letih, lesu, lapar lagi, belum makan sih. Mana sempat? Hari itu begitu menguras tenagaku. Bagaimana tidak? Ada empat agenda kegiatan yang pelaksanaannya hampir bersamaan. Kalau sudah begitu, mau diapain lagi? Ya, dinikmati aja deh, biar semuanya terasa ringan.

Aku yang biasanya ceria, selalu tersenyum dan menyapa siapa saja, hari itu tak satu pun dari mereka aku sapa. Aku lewat begitu saja seperti angin. Wuushh !!! lenyap tak berbekas. Nah, loh! pada heran kan teman-temanku satu kosan.

Malah ada yang bilang, aku lagi marah-an sama itu tuh si Fira. Fira temanku satu kosan yang selalu ceria dan menyapa setiap bertemu denganku. “Mbak, lagi ngapain? Mbak, mau kemana? Mbak, makan bareng, yuk! Mbak, pinjem bukunya, ya! Mbak, cantik, dech! Gubrakk!” dengan senyumnya yang khas. Lucu juga sih he he he
Ada ada saja.

Akhirnya aku tersenyum dan meminta maaf atas sikapku. Aku bilang kalau aku tidak lagi marah padanya dan juga yang lainnya. Ya, begitulah aku. Aku yang biasanya tersenyum, selalu ceria kepada mereka, hanya sekali saja aku berubah sikap ternyata menjadi dampak yang tidak baik buat mereka. Maafin aku saudari-saudariku!

Aku teringat pada sebuah buku yang pernah aku baca. Buku yang menginspirasiku. Buku yang merubah diriku menjadi lebih baik. Buku yang akhirnya aku jatuh hati padanya. “Ketika engkau tersenyum di hadapan orang lain, maka engkau sedang memberikan kepada mereka kehidupan yang indah, penuh optimisme dan kabar gembira yang mereka harapkan. Sebaliknya, jika engkau bertemu seseorang dengan wajah angker, maka engkau telah menyiksa mereka dan menodai kehidupan mereka. Relakah engkau menjadi biang kesedihan orang lain?”

Seseorang mengatakan bahwa “senyum itu merupakan keharusan bermasyarakat”. Karena ketika kita bergaul dengan orang lain, maka kita dituntut untuk berkomunikasi dengan baik. Dan agar bisa berkomunikasi dengan baik, maka salah satu solusinya adalah dengan senyuman.

Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam pun mengajarkan kepada kita untuk selalu tersenyum. Beliau selalu memperlakukan istri-istrinya dengan lemah lembut, dan seyum tak lepas dari bibirnya. Beliau selalu bersikap romantis, senang bersenda gurau, dan pandai menciptakan suasana ceria saat bersama istri-istri beliau. Itulah keteladanan Rasulullah yang patut untuk kita tiru, dan menjadikan keluarga Rasulullah sebagai cermin dalam kehidupan kita.

Oleh karena itu, mulailah dari diri sendiri. Marilah kita berbicara dengan orang lain dengan bahasa kalbu. Alangkah indahnya bibir kita ketika berbicara dengan bahasa senyuman. Jangan menunggu sampai menjadi orang yang bahagia, jika hanya untuk tersenyum. Maka tersenyumlah dari sekarang agar engkau menjadi orang yang bahagia.

Wallahu a’lamu bisshowab

Jumat, 16 September 2011

SEPERTI APAKAH CINTA ?

Cinta itu seperti kupu-kupu, semakin dikejar semakin ia lari tapi kalau cinta itu dibiarkan, ia akan terbang. Dia akan datang pada saatnya. Cinta membuat kita bahagia tapi juga bisa membuat kita merana, resah gelisah, gundah gulana. 

Apalah artinya cinta kalau hanya di bibir saja? Apalah artinya “I love you” kalau akhirnya orang yang kita cintai dengan tulus, begitu mudahnya pindah ke lain hati? Apalah artinya cinta?

Cinta akan berharga kalau diberikan pada seseorang yang juga menghargainya. Anugerah terindah adalah mencinta dan dicinta karena Allah dan kekasihNya serta mencintai Allah dan kekasihNya lebih dari segalanya.

Ya Allah…
Bila suatu saat nanti aku jatuh cinta
Cintakanlah aku pada seseorang yang juga mencintaiku karenaMU
Rindukanlah aku pada seseorang yang juga merindukanku karenaMU

Allahu Robbi…
Bila suatu saat nanti aku jatuh cinta
Jangan biarkan cintaku padanya melebihi cintaku padaMU
Jangan biarkan rinduku padanya melebihi rinduku padaMU

Allahu Robbi…
Aku punya pinta
Bila suatu saat nanti aku jatuh hati
Penuhilah hatiku dengan bilangan cintaMU yang tak terbatas
Biar rasaku padaMU tetap utuh

Ya Robbi…
Bila suatu saat nanti aku jatuh hati
Pilihkan hamba dengan seseorang yang hatinya penuh dengan kasihMU
Dan membuatku semakin mengagumiMU
Pilihkan hamba dengan seseorang yang terbaik menurut pilihanMU

Allahu Robbi…
Pintaku terakhir
Bila suatu saat nanti aku jatuh cinta
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cintaMU
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Allah…
Aku hanyalah hambaMU
Yang hanya bisa meminta
Yang hanya bisa mengharap

Kalau Allah sudah menjawab doaku
Apalagi yang harus aku tunggu

Jika kehidupan ini sebuah lagu, sabarlah menunggu hingga nada yang terakhir, jika kehidupan ini sebuah lukisan goreskanlah warna yang terindah di hati, berikanlah yang terbaik dari dirimu, kelak Allah akan menjawab semua masalahmu dengan kasihNya, Yakinlah selalu semua pasti akan indah pada waktunya.

Jumat, 05 Agustus 2011

KEPASRAHANKU


Ketika wajah ini penat memikirkan dunia
Wudhu adalah penawarku
Ketika tangan ini letih menggapai cita-cita
Takbir adalah penopangku
Ketika pundak ini tak kuasa memikul amanah
Sujud adalah tempat curahanku

Allah… ampuni hambaMu
Engkaulah sandaran di setiap langkahku
Allah…dekatkanlah aku padaMU
Agar tunduk disaat yang lain angkuh
Agar teguh disaat yang lain runtuh
Agar tegar disaat yang lain terlempar

Semoga Allah selalu menguatkan kita dijalanNya.

Kamis, 04 Agustus 2011

AMIN SAMPAI TIGA KALI


Bisa dibilang postingan ini agak terlambat mengingat kita sudah memasuki hari keempat Ramadhan, tetapi semoga saja bermanfaat paling tidak untuk menambah wawasan keilmuan kita.
Pagi itu sehari sebelum Ramadhan, saya sempatkan untuk membaca beberapa artikel seputar Ramadhan. Persiapan apa saja yang patut kita lakukan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, bulan suci, bulan yang penuh dengan rahmat dan maghfirah ini agar Ramadhan kita bisa optimal dan membawa keberkahan. Ya, sekedar untuk mengingatkan diri sendiri sebelum memasuki bulan yang mulia ini. 
Mulailah saya berkelana di dunia maya, tiba-tiba ada satu artikel yang membuat diri ini bertanya-tanya. Artikel itu sempat saya baca juga di eramuslim sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan tetapi entah kenapa tiba-tiba artikel itu hilang begitu saja di saat saya mencarinya kembali di hari berikutnya.
Dalam artikel itu disebutkan bahwa, “Ketika Rasulullah sedang berkhutbah pada saat Sholat Jum'at (dalam bulan Sya'ban), beliau mengatakan, “Amin”. sampai tiga kali. Para sahabat terkejut begitu mendengar Rasulullah mengatakan Amin, dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung,  kenapa Rasulullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat Jum'at, para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang hal tersebut,  kemudian beliau menjelaskan: "Ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasulullah amin-kan do'a ku ini.  Do'a Malaikat Jibril itu adalah "Ya Allah tolong abaikan puasa umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal sebagai berikut :
1.      Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada)
2.      Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri
3.      Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”
Saya teringat dengan kajian yang pernah saya ikuti beberapa waktu lalu. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyemarakkan bulan suci Ramadhan dan salah satunya adalah dengan saling mengirim sms, saling meminta maaf diantara saudara, teman dan orang-orang sekitar kita. Dan hadits ini sempat dikirimkan lewat sms berantai. Akhirnya ada salah satu dari mereka merasa gelisah dengan adanya sms tersebut dan bertanya, apakah hadits ini memang benar-benar ada? Kalau pun ada, berarti kita harus melakukan ketiga hal tersebut sebelum memasuki bulan Ramadhan. Bagaimana dengan kita yang belum sempat meminta maaf, apakah Allah Subhanahu Wata’ala akan mengabaikan puasa kita?
Ternyata setelah dicari, hadits ini tidak diketemukan dan dinyatakan hadits ini dhoif. Ada hadits lain yang mempunyai kemiripan dengan yang disebutkan di atas yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Imam Ahmad. Abu Hurairah bercerita bahwa suatu saat Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wassalam naik ke mimbar kemudian Nabi mengucapkan,” Baru saja Malaikat Jibril datang kepadaku dan Malaikat Jibril menyampaikan tiga hal. ” Apa ketiga hal itu?
1.  Barangsiapa yang menemui bulan Ramadhan tetapi tetap melakukan maksiat dan mati dalam keadaan bermaksiat, maka dia tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wata’ala dan dia tidak akan mendapatkan sedikit pun rahmat Alloh dari bulan Ramadhan.
2.  Barangsiapa yang memiliki orang tua yang dia durhaka kepadanya dan dia tidak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, maka dia tidak akan masuk surga. Kalau kita ingin masuk surga maka lihatlah kedua orang tua kita. 
3. Barangsiapa yang ketika disebut nama Nabi Muhammad tetapi dia tidak bersholawat kepadanya dan terus menerus selamanya seperti itu sampai dia meninggal dunia, maka Allah Subhanahu Wata’ala akan melaknatnya di akhirat kelak.
Dan Rasulullah Shalallahu’alaihi Was sallam mengaminkan ketiga hal itu. Inilah hadits yang ahsan dan shahih.
Dengan mencermati hadits pertama di atas terkait dengan saling memaafkan dan puasa, bukan berarti kalau kita belum sempat atau belum bisa meminta maaf kepada orang tua, suami atau istri, kerabat atau saudara maupun orang-orang sekitar, puasa kita akan diabaikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Di sini tidak ada keharusan untuk meminta maaf tetapi bukan berarti kita tidak boleh saling memaafkan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Boleh-boleh saja kita saling meminta maaf, justru dengan saling meminta maaf akan lebih baik tetapi memaafkan tidak harus menunggu datangnya bulan Ramadhan. Sebagaimana pernah disampaikan sahabat saya di dunia maya bahwa “Tak ada aturan yang menyebutkan, meminta maaf harus menunggu datangnya bulan Ramadhan ataupun lebaran. Yang terbaik adalah segera, setiap kali melakukan kesalahan, kekhilafan. Dan mumpung masih ada kesempatan, marilah kita saling membebaskan diri dari kesalahan, dengan saling memaafkan.”
Kemudian terkait dengan hadits yang kedua, marilah kita saling berlomba-lomba untuk mencari kebaikan di bulan yang penuh dengan maghfirah ini agar mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah Subhanahu Wata’ala, mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak membaca Al Qur’an, berdzikir menyebut Asma Allah, bertahmid, bersujud dengan melakukan sholat-sholat sunah terutama di sepertiga malam dan jauhilah perbuatan-perbuatan yang mendekatkan diri kita kepada kemaksiatan. Barangsiapa yang menemui bulan Ramadhan tetapi tetap melakukan maksiat dan mati dalam keadaan bermaksiat, maka dia tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wata’ala dan dia tidak akan mendapatkan sedikit pun rahmat Alloh dari bulan Ramadhan. Sebagaimana disebutkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan maghfirah (ampunan) tetapi sedikit pun dia tidak mendapatkannya. Na’udzubillah min dzalik.
Janganlah kita durhaka kepada kedua orang tua kita, berlaku baiklah kepada keduanya, menghormati orang tua kita dan janganlah sekali-kali membentak keduanya atau berkata “uh” kepada keduanya. Sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam QS. Luqman : 14 – 15 :
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu. Kemudian hanya kepada-Kulah tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Dalam suatu hadits, Abdullah bin Mas’ud bercerita bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya : “Wahai Rasulullah, siapakah diantara para manusia yang paling berhak untuk saya pergauli dengan baik?”
“Ibumu,”kata Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.
“Lalu siapa lagi?” kata lelaki itu.
“Ibumu.”
“Lalu siapa lagi?”
"Ibumu."
"Lalu siapa lagi?"
“Bapakmu.”
(Hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Semoga apa yang saya sampaikan ini bermanfaat dan apabila ada kurang lebihnya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Marilah kita manfaatkan waktu kita dengan sebaik-baiknya di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini. Semoga kita mendapatkan rahmat dan maghfirahNya. Amin.

Wallahu a’lam bis shawab

Jumat, 29 Juli 2011

APAKAH AKU ENGGAN UNTUK BERBAGI ?


Hari masih pagi. Jam menunjukkan pukul 06:41. Ketika aku lagi asyik berbenah diri, tiba-tiba ada sms masuk ke hapeku. “Seseorang mengetuk pintu saat aku sarapan pagi. Alhamdulillah dapat inspirasi menulis. Intinya, ayo membaca. Ya ada di sekitar kita lalu menuliskan hikmahnya.” Begitulah kira-kira bunyi smsnya. Aku tertegun membacanya. Dialah sahabatku di dunia maya. Sahabat yang selalu memberi dorongan dan semangat tuk aku segera menggerakkan tanganku. Dia yang selalu menanyakan sampai di mana tulisanku. Apa nggak capek, sudah berapa kali dia menasehatiku tapi aku sendiri cuek saja dan asyik dengan duniaku. Duniaku yang penuh dengan angka-angka. Aku pun menjawab sms itu sekenanya “Gitu ya, kalau udah jadi penulis apa pun bisa dijadikan inspirasi. Tapi sayang, tidak semua penulis bisa seperti itu termasuk aku he…he…” Itulah aku, yang selalu merasa tidak PD. Aku ini orangnya biasa-biasa saja dan belum apa-apa. Tulisanku juga masih sederhana, sesederhana orangnya he…he…

Lagi-lagi dia memberi semangat “Insya Allah bisa, kecuali yang gamang atau enggan melakukan, padahal ilmu udah di tangan.” Hemmm…nyindir nih…batinku. Aku tersenyum dalam hati.

Terus terang di otakku banyak ide yang ingin aku tuangkan menjadi sebentuk tulisan. Tapi apa daya, waktuku habis untuk beberapa amanah yang diberikan kepadaku. Waktu tujuh hari rasanya belumlah cukup. Lima hari dalam satu Minggu, kuhabiskan waktuku di kantor dari jam 08.00 – 16.00 kadang-kadang lembur karena ada tugas tambahan atau kerjaanku yang belum sempat terselesaikan. Sabtu – Minggu libur tapi ada saja acara yang membuatku tidak bisa bernafas lega barang sebentar. Apalagi sekarang aku diamanahi untuk menjadi Bendahara Umum di sebuah Yayasan yang selama ini aku biasa beraktivitas. Aku harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit dari kosku. Rasanya badanku pegal-pegal semua. Kemarin sempat jatuh sakit dan tidak masuk kantor selama dua hari. Sebenarnya dokter menyarankan untuk istirahat total tidak boleh beraktivitas dulu selama minimal 3 hari. Tapi aku sendiri tidak bisa tenang karena kepikiran dengan amanah dan tugas-tugasku di kantor yang sudah menungguku. Dan benar saja, baru aku tinggal dua hari di meja kerjaku sudah menumpuk berkas-berkas perusahaan yang masuk dan belum sempat aku rekap. Biasa deh kalau menjelang puasa begini, banyak permintaan. Kok jadi curhat ya he…he…

Aku kadang bertanya pada diriku sendiri, apakah aku kurang bisa membagi waktu? Apakah aku ini enggan untuk berbagi? Ataukah aku yang merasa tidak PD dengan apa yang aku sampaikan? 

Jujur aku ingin berbagi, berbagi apa saja apalagi berbagi dalam hal ilmu. “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan, ilmu yang diberikan kepada orang lain, tawadu’ (rendah hati) yaitu khidmad kepada guru dan kita dianjurkan untuk sambung terus dengan guru jangan sampai melupakan guru kita.” Sebagaimana juga dalam hadits yang mengatakan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” Jadi alangkah indahnya dan sangat beruntungnya kita manjadi manusia kalau kita bisa saling berbagi, saling mengingatkan, saling melengkapi dan juga saling mendoakan. 

Pernah beberapa waktu lalu, aku diminta untuk mengisi rubrik niswiyah edisi khusus ramadhan di sebuah majalah. Tapi kembali tawaran itu aku tolak, aku merasa masih banyak yang lain yang lebih baik daripada aku. Aku bilang bahwa tulisanku itu belum apa-apa, masih sederhana dan masih mencirikan penulis pemula. Aku tidak begitu pintar merangkai kata-kata. Rasanya belum pantas untuk dimuat di sebuah majalah. 

Eh, ternyata tulisanku itu masih ditunggu walaupun deadlinenya sudah kelewat. “Mbak, hari ini saya tunggu tulisannya sampai jam 12.00 siang, ya,” pinta bagian redaksi majalah ketika bertemu denganku. Akhirnya terpaksa deh aku jawab Ok walaupun dalam hati aku ragu, bisakah aku? Aku pikir tawaran itu sudah tidak berlaku. Sampai sekarang pun aku belum tahu, apakah tulisanku itu jadi dimuat atau tidak karena harus diseleksi dulu di bagian redaksi. 

Pun ketika hari ini aku ditelpon oleh seseorang terkait dengan Kajian Tafsir An-Nisa’ khusus untuk bulan Ramadhan yang diadakan oleh Al Kayyis dan kebetulan aku adalah salah satu panitia dalam acara itu. Lagi-lagi aku selalu menjawab kalau tidak salah” atau mungkin sampai akhirnya si penelpon itu tidak yakin dengan jawabanku dan memintaku untuk mengatakan ya atau tidak Aku tersenyum. Malu rasanya. Itulah kebiasaan jelekku, selalu mengawalinya dengan kata-kata kalau tidak salah atau mungkin
 
Aku teringat dengan pesan yang pernah disampaikan Kakakku ketika mengikuti Kelas Menulis Fiksi Angkatan I bahwa ada lima perintah perguruan sebagai pembuka pintu gerbang untuk kita menjadi seorang penulis dan salah satunya adalah mengukir citra diri positif. Jangan mengatakan saya tidak bisa tapi berkatalah bahwa saya bisa atau saya bisa menjadi penulis. Dengan begitu kita akan lebih mudah untuk menuangkan ide-ide kita dan merangkainya menjadi sebentuk tulisan.

Ya Allah, mudahkanlah lisanku dan jauhkan diriku dari keragu-raguan. Ya Ilahi Robbi berikan kemudahan dalam segala urusanku dan beri kekuatan tuk menjalankan amanahku dengan sebaik-baiknya. Allah…tuntunlah aku selalu di jalanMU. Amin