Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2011

SIAPA YANG DAPAT PASTI CEPAT

Beberapa bulan yang lalu, adikku yang bungsu melangsungkan pernikahan. Ketika itu aku lagi bercanda dengan kedua keponakanku.

“ Bulek. Bulek Nia itu kan adiknya Bulek. Mestinya yang nikah duluan itu Bulek bukan Bulek Nia.” Protes Ais keponakanku kala itu.
“ Ya, Bulek kan belum dapat. Kalau Bulek Nia udah dapat duluan. Siapa yang dapat pasti cepat, “ jawabku ketika itu.
“ Lho, kok gitu. Siapa yang cepat pasti dapat. Bulek ngarang, ya?“ sambil ketawa mencubitku.
“ Kalau yang ini lain, Mbak Ais. Siapa yang dapat pasti cepat. Insya Allah. Masak Bulek suruh cepat-cepat sedangkan Bulek belum dapat. Kalau udah dapat ya segera menikah karena kalau terlalu lama malah nanti tambah banyak dosa.” Aku tegaskan sekali lagi sama keponakanku itu.
 “ Hayo, sekarang Mbak Ais yang harus tanggungjawab, nih!“ kataku sambil tersenyum tipis menggodanya.
“ Lho, kok Mbak Ais yang harus tanggungjawab. Bulek sih, nggak mau nyari.“
“ Bulek bukannya nggak mau nyari tapi Bulek maunya dicariin. Mungkin Mbak Ais bisa bantuin Bulek. Mau nggak?“ aku sendiri sebenarnya cuma bercanda, eh malah dia yang serius.
“ Bantuin gimana? Emang Bulek maunya seperti apa?“
“ Yang pasti laki-laki, Mbak Ais.”
“ Ya, iyalah masak perempuan. Itu namanya jeruk makan jeruk, Bulek.” Fia adiknya Ais tiba-tiba ikutan nguping juga rupanya.
“ Bulek, Bulek itu cocoknya sama Om Mukhlis.” pinta Fia kala itu.
“ Hah, sama Om Mukhlis.” Aku agak terkejut juga.
“ Iya, Om Mukhlis yang biasanya nganterin Bulek ke sini itu lho. Itu kan pacarnya Bulek.”
“ Ya, yang benar aja Mbak Fia. Itu bukan pacarnya Bulek.“
“ Tapi setiap main ke rumah, Bulek pasti boncengan sama Om Mukhlis. Itu artinya Bulek pacaran kan?” protesnya sambil tersenyum padaku.
“ Bukan berarti boncengan itu artinya pacaran Mbak Fia. Di dalam Islam tidak ada istilah pacaran. Lagian Bulek maunya menikah bukan pacaran. Dan Om Mukhlis itu adiknya Bulek. Kalau sama adik sendiri kan nggak apa-apa boncengan tapi tidak boleh menikah.”
“ Lho, kok gitu.”
“ Iya, dalam ajaran agama, kita tidak boleh menikah dengan saudara sekandung.”
“ Apa itu saudara sekandung?”
“ Saudara sekandung itu, saudara yang dilahirkan dari Ibu yang sama, mereka mempunyai orang tua yang sama. Seperti juga Mbak Ais dengan Dik Azril, sama-sama anaknya Ibu Farida dan Ayah Bahtiar.”
“ Oh, gitu ya. Ya udah kalau gitu Bulek sama Om Iwan aja.”
“ Om Iwan yang mana?” tanyaku ketika itu.
“ Om Iwan yang kemarin pernah ke rumah memperbaiki komputernya Ayah.”
“ Kalau itu sih udah punya istri, sayang.”
“ Tapi kalau kesini kok sendirian, nggak sama istrinya.”
“ Ya, iyalah Mbak Ais. Masak kemana-mana istrinya harus diajak.” Aku jadi tersenyum sendiri.
“ Udah ah, ngomongin yang lain aja, deh.”
“ Eh, entar ta Bulek. Oh ya, sama Om Eko aja!”
“ Aduh, lagi-lagi Om Eko. Om Eko itu masih saudara sendiri, sayang. Udah ya, kalau begini terus, Bulek pulang nih.”
“ Ya, jangan dulu ta Bulek. Belum selesai. Katanya tadi suruh nyariin.”
“ Enggak jadi deh, tadi Bulek cuma bercanda aja kok.” Hehehe

Ini yang ribut kok malah keponakannya. Wah, hati-hati kalau main ke rumah Kakakku, bisa-bisa jadi sasaran nih sama keponakan-keponakanku hehehe

Senin, 14 November 2011

KENANGAN MASA KECILKU DI BANGKU SEKOLAH DASAR

Tradisi memberikan PR di kalangan Blogger? Kalau tidak salah aku pernah membaca postingan yang mirip seperti ini di blognya Mbak Niar beberapa waktu lalu. Aku sempat mengenal beliau gara-gara membaca postingan Pemenang Event Book Your Blog di blognya Abi Sabila. Tapi maaf Mbak Niar, aku membacanya sambil lalu. Aku lebih suka membaca tulisannya Embak tentang Athifah. Lucu. Bikin aku ketawa. Namanya juga anak-anak hehehe

Aku sendiri mulai aktif ngeblog bulan Januari 2011 dan bisa dibilang masih baru di kalangan para pecinta blogger. Tulisan-tulisanku pun hanyalah sebuah catatan harian seorang mutiara. Sebuah catatan harian? Mestinya bisa menulis setiap hari dong? :) Ya begitulah kira-kira tapi ternyata aku sendiri jarang sekali menulis apalagi blogwalking hehehe sampai-sampai ada yang berkomentar, postingan yang barunya mana Mbak? Dari Mbak Dey yang kemarin baru saja berkenalan denganku. Aduuhh mukaku ditaruh dimana nih, malu rasanya.

Tapi setelah ketiban sampur dari Abi Sabila untuk meneruskan mengerjakan PR-nya, blogku jadi lebih berwarna seperti warna pelangi di senja hari :) Dan aku pun bisa bersilaturrahim ke blognya Kang Matahari Timoer. Baru kali ini aku mendengar nama itu.   Ternyata beliaulah orang pertama yang menghidupkan kembali tradisi ini dengan memberikan PR tentang bagaimana mengenang hal-hal tertentu ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Perasaan dari tadi kok ngomong terus, kapan ngerjain PR-nya? hehehe

Mengenang masa kecil di bangku Sekolah Dasar rasanya menyenangkan. Apalagi membicarakan Guru Favorit, bagiku semua guru adalah baik. Masing-masing mempunyai kenangan dan kesan tersendiri di hatiku. Tapi tidak semua guru yang baik adalah favorit. Pengin tahu guru favoritku? Guru favoritku adalah Ibu Mariyam. Dan ternyata bukan aku saja yang mengidolakan beliau tapi juga sembilan saudaraku karena mereka juga bersekolah di tempat yang sama. Dan  setiap lebaran tiba, kami selalu menyempatkan waktu untuk bersilaturrahim ke rumah beliau. Dan entah kenapa, kami mempunyai kesan yang sama dengan beliau. 

Tapi ada satu guru lagi yang sampai sekarang pun aku masih mengingatnya, bukan karena apa-apa tetapi lebih kepada penampilannya. Beliau selalu memakai baju bleser dengan warna yang sama dari atasan sampai bawahan termasuk sepatunya. Kalau blesernya warna merah, sepatunya pun juga warna merah. Kalau blesernya warna hijau, sepatunya pun juga warna hijau. Teman-teman biasa menyebutnya Kleting Merah, Kleting Hijau atau Kleting Biru kalau kebetulan beliaunya pakai baju warna biru. Masih muda dan cantik lagi. Tapi jangan salah menilai, walaupun penampilannya seperti itu, beliaunya baik lho. Terbukti ketika aku mengikuti lomba menggambar, beliaulah yang mengajariku. Ternyata beliau mempunyai bakat menggambar juga :) Terima kasih Bu Guru Cantik, itulah sebutan yang masih aku ingat setiap kali Bu Guru itu lewat di depan kelasku, sampai-sampai aku sendiri lupa namanya. Maafin aku Bu Guru Cantik ! Tak ada yang pantas aku ucapkan selain rasa terima kasih yang tak terhingga kepada guruku.
Terima kasihku kuucapkan
            Pada guruku yang tulus
            Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
            Untuk bekalku nanti…
Begitulah kira-kira lagunya. Lagu ini menjadi kenangan tersendiri dalam hatiku. Jadi terharu deh.

Lain lagi dengan Guru Killer. Guru Killer? Nggak ada tuh. Bagiku semua guru adalah baik. Semua mempunyai kenangan dan kesan tersendiri di hatiku. Hanya mereka yang nggak mengerjakan PR, dan suka membolos saja yang mengganggapnya killer :) Makanya aku segera mengerjakan PR walaupun terlambat hehehe sama saja dong :) Siap-siap nih disetrap sama yang memberi PR hehehe

Aku ini orangnya nggak suka membolos apalagi mempunyai Teman Membolos. Kalau aku disuruh nyebutin. Siapa ya? Seingatku nggak ada yang mengajakku membolos. Alhamdulillah semua baik-baik kepadaku.

Teman Berantem? Teman membolos saja nggak punya, nggak level tuh. Aku itu orangnya kalem, pendiam kalau lagi tidur dan nggak suka rame-rame apalagi berantem. Oh no!

Daripada berantem, mendingan kita bicara masalah Jajanan Favorit saja deh. Klenyem dan jenang grendol. Dua jajanan inilah yang masih bisa aku ingat dan termasuk jajanan langka karena selama aku di Surabaya nggak pernah ada yang namanya Klenyem dan Grendol. Klenyem terbuat dari ketela rambat yang direbus dan dihaluskan kemudian dicampur dengan gula terus dicelupin ke adonan tepung lalu digoreng dan siap untuk disantap.

Ada yang tahu nggak jenang grendol? Jajanan ini terbuat dari tepung sagu lalu dibuat adonan dan dipotong kotak-kotak atau dibuat bulat-bulat kecil kemudian dimasukkan ke dalam air yang sudah mendidih. Kalau sudah setengah matang baru diberi gula merah dan garam. Jadi deh jenang grendolnya dan siap untuk dimakan. Yummy! Eh jangan lupa akan lebih enak kalau ditambahin santan di atasnya. Waah, jadi lapar deh. Tapi sayang aku nggak punya gambarnya. Sampai sekarang pun kedua jajanan itu masih ada lho yang jualan di Ponorogo. Satu mangkok jenang grendol cuma seribu rupiah. Nggak percaya? Coba saja datang ke rumahku hehehe

Mainan Favorit. Siapa yang nggak suka bermain ketika SD? Kalau aku sukanya mainan Bola Bekel. Ini khusus mainan untuk anak perempuan tapi rasanya nggak seru kalau belum ikutan Bak Sodor. Dan kebetulan halaman rumah tetanggaku sangat luas seperti lapangan sepak bola. Jadi deh buat tempat kita bermain rame-rame. Kalau Bak Sodor boleh laki-laki atau perempuan. Biasanya terdiri dari empat orang sekali main. Mungkin sudah ada yang mengenalnya, nih? Yuk, kita rame-rame bermain Bak Sodor! Seru lho! :)

Sepatu Favorit? Ingat lagunya Ria Resti Fauzi. Kalau nggak salah nih, “ Sepatu dari kulit rusa. Itu aku tak minta…” Pokoknya gitu deh. Tahu nggak? sepatuku itu udah nggak bermerk terbuat dari plastik, dan nggak pernah ganti-ganti. Lha gimana mau ganti, setiap terkena sinar matahari sepatuku itu mesti melar hehehe dan selalu masih bisa dipakai kecuali kalau sudah robek kanan kirinya :)

Nah yang ini nih aku lupa dan bener-bener lupa. Tas Favorit. Rasanya tasku itu bukan tas favorit apalagi bermerk tapi cuma satu yang aku ingat ketika aku basah kuyub karena kehujanan dan tasku satu-satunya yang ku punya pun ikut basah, aku sempat bingung, besok ke sekolah pakai apa-an ya? Akhirnya tidak ada rotan akar pun jadi. Terpaksa aku membawa tas kresek ke sekolah. Dan inilah memory yang tak terlupakan hehehe

Alhamdulillah PR-ku sudah selesai aku kerjakan. Hayo PR-nya siapa yang belum kelar? :) atau aku nih yang paling belakang hehehe Keburu diberi PR lagi  sama Abi Sabila :) Eh, ternyata Abi nggak ngasih aku PR lagi abis muridnya Abi yang satu ini nakalan sih nggak segera ngerjain PRnya hehehe.

Sekarang gantian deh ngerjainnya. Tapi PR ini aku terusin ke siapa ya? Aku nggak punya banyak teman blogger. Bingung juga nih, semoga saja yang aku sebutin ini belum pada ngerjain PR-nya. Minta tolong ya diterusin PR-nya! hehehe
                        Mbak Bidadari Azzam
Mohon maaf jika tidak berkenan. Sungguh tiada maksud untuk membebani, hanya sekedar ikhtiar untuk menjalin silaturrahim. Jika tidak dianggap merepotkan, mohon teruskan kembali PR ini kepada lima sahabat lainnya, begitu pesan dari pemberi PR sebelumnya. Maaf kata-katanya copy paste dari blognya Abi Sabila :)

Jazakumullah telah dipercaya untuk meneruskan PR Blogger-nya. Semoga silaturrahim tetap terjalin tidak hanya di dunia maya tetapi juga nantinya kita bisa dipertemukan di dunia nyata. Amin Ya Robb.

Kamis, 20 Oktober 2011

LELAKI SEJATI, IMAM KELUARGA

Laki-laki memang ditakdirkan Allah Subhanahu Wata’ala menjadi pemimpin keluarga, pemimpin bagi kaum wanita. Betapapun hebatnya seorang wanita, tetap saja kaum laki-laki yang menjadi pemimpin keluarga. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam QS. An-Nisa : 34 :

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena itu Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”

Namun, yang sering menjadi pertanyaan adalah, mengapa selalu laki-laki yang menjadi pemimpin sebuah keluarga? Tak adakah kemungkinan bagi wanita untuk memimpinnya? Mengapa harus laki-laki?

Kepemimpinan dan kekuasaan ini telah ditegaskan dan ditekankan dalam firman-Nya,” Sebab Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” Ini karena lelaki memiliki kemampuan lebih dibanding wanita dalam hal perlindungan, bimbingan dan usaha. Dan dalam Islam yang berkewajiban untuk mencari nafkah adalah suami bukan istri. Hal ini diisyaratkan Allah dalam firman-Nya : “ Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari istrinya.” (QS. Al Baqarah : 228)

Kelebihan lelaki atas wanita ini bukan menunjukkan kelemahan wanita, melainkan bahwa wanita dan laki-laki itu harus saling melengkapi. Wanita adalah sebagai penenang sedangkan laki-laki adalah sebagai sandaran, dimana keduanya saling membutuhkan. Wanita dengan fisik dan mentalnya memang cocok untuk dipimpin, sebaliknya laki-laki. Dan ini sudah menjadi ketentuan Allah Subhanahu Wata’ala, yang pasti memiliki hikmah yang sangat besar, karena Allah tidak akan menciptakan dan menetapkan sesuatu secara sia-sia.
Rasulullah bersabda,”Sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada manusia, maka aku akan memerintahkan seorang wanita untuk sujud pada suaminya.” (HR. Turmudzi). Hadits ini telah menunjukkan begitu besarnya kepemimpinan seorang suami terhadap istrinya.
Tapi meski laki-laki sudah ditakdirkan menjadi pemimpin keluarga, bukan berarti laki-laki bersikap otoriter dan sewenang-wenang terhadap istri dan anaknya.

Bersambung... 

Selasa, 18 Oktober 2011

RUANG HATI

Gambar dari http://arzfndy.blogspot.com/

Hampir lima tahun aku menempati ruang hatimu. Waktu yang cukup panjang menurutku. Berat rasanya. Begitu banyak kenangan yang tertoreh bersamamu. Di saat aku tersenyum bahagia, tertawa lepas tanpa beban. Pun di saat aku menangis terisak dalam kesendirian. Suka duka silih berganti menerpaku. Tetapi kau tetap setia menemaniku, melindungiku dari panasnya matahari, hujannya gerimis dan juga dinginnya malam.

Selama itu pula aku telah merawatmu, memberi kesejukan, mencintaimu dengan penuh kasih sayang. Semoga dengan rentang waktu hampir lima tahun itu, cukup memberimu sebuah kenyamanan. Walau kadang aku membiarkanmu begitu saja di saat aku tak lagi kuat. Di saat capek menderaku tiba-tiba. Di saat ngantuk ini tak tertahan lagi. Maafkan aku, cinta!

Cinta. Kutatap engkau tuk terakhir kalinya. Hanya sebutan itulah yang pantas untukmu. Selamat tinggal cinta. Semoga sepeninggalku nanti, ada seseorang yang lebih baik dariku yang akan menempati ruang hatimu. Seseorang yang lebih amanah, lebih bisa merawat dan mencintaimu sepenuh hati. Ah, cinta. Aku terlanjur cinta padamu. Cinta pada pandangan pertama kala menatapmu. Pada sebuah ruang tiga kali tiga meter. Itulah ruang kamar kosku.

Berawal dari Abah, pemilik kos memintaku tuk pindah ke ruang hati yang lain karena ruang hatimu perlu suasana baru. Sejak itu juga, ku enggan melangkahkan kaki. Aku masih ingin bersamamu merenda hari.

Hari itu, 28 Mei 2011 tepat pukul 05.30 aku bergegas meninggalkanmu, cinta. Tak ada waktu lagi. Harus hari itu.

Kamu tahu cinta? Kali ini ku tak menemukan chemistry itu, yang dulu pernah kutemui di ruang hatimu. Asing kurasa. Enggan kumenyapanya. Tapi tak ada pilihan lain kecuali memberikan kesempatan padanya tuk bersamaku. Seperti juga ia, yang rela memberikan kesempatan untukku tuk menempati ruang hatinya tanpa banyak kata. Aku berusaha tuk menerima apa adanya. Semoga aku bisa memberikan cinta itu untuknya. Dan semoga ini adalah ruang hatiku yang terakhir.

            Seperti itu jugakah perjalanan cintaku?

Ya Allah, aku ingin ada yang menemani dalam setiap langkahku. Aku ingin ada yang menegurku, mengingatkanku, menguatkanku, mendoakanku. Aku ingin ada yang membawaku ke jalanMu. Jalan yang lurus. Jalan menuju surgaMu. Ya Allah pertemukan aku dengan hambaMu yang juga mencintaiku karenaMu. Berikanlah kesabaran dan ketabahan dalam diriku tuk menunggu saat terindah itu dariMu. Aamiiin Ya Robb…

“ Episode pindahan kamar kos karena terlanjur cinta dengan kamar kosku yang lama he he he “

Jumat, 14 Oktober 2011

DI ATAS PUSARA ITU

Gadis berkerudung merah jambu itu merenung sambil sesekali tangannya mencabuti rumput yang tumbuh liar di atas pusara Abahnya. Lama dia tak menjenguknya. Air matanya pun mengalir deras.

***

“Abah, Sasa berangkat dulu, ya!” teriaknya sambil setengah berlari ia berpamitan pada Abahnya.

Kontan saja Abahnya terkejut mendengarnya.

“Lembutkan suaramu, Nduk, itu tanda cinta terhadap Nabimu,” tegur Abahnya kala itu.

“Astaghfirullah, mau kemana dengan pakaianmu seperti itu, Nduk!”

“Ada acara temu kangen sama teman-teman SMA ku dulu, Bah,” jawab Sasa dengan entengnya.

“Udah ya Bah, keburu telat, nih!” ucapnya dengan merengek.

“Kamu nggak malu sama Allah. Wanita itu wajib menutup auratnya, Nduk, bukan malah diumbar dan dipertontonkan kepada yang bukan muhrimnya.”

“Ah, Abah kayak nggak tahu aja. Ini kan model baju yang lagi ngetren sekarang Bah.”

“Astaghfirullah! Nyebut Nduk, sama Gusti Allah. Coba kalau nanti kamu dipanggil Gusti Allah dalam keadaan belum berjilbab, jawaban seperti apa yang akan kamu berikan, Nduk?!”

Sasa tak lagi berani melihat wajah Abahnya. Dia pun menunduk tak lagi bicara. Dia paling takut kalau mendengar tentang kematian.

“Sudahlah Bah, masih ada hari esok.” ucap istrinya pelan.

“Bu, sebentar lagi petang, tidak akan sempat lagi kita mengajarinya tentang ada dan ketiadaan. Ingat gunakan waktu luang sebelum waktu sempit, anak kita perlu mengenal kematian, agar kelak dia akan lebih bertaqwa kepada Yang menyembunyikan siang ketika datang waktu malam. Setiap manusia pasti akan kembali kepadaNya. Kita tidak akan pernah tahu kapan dan dimana. Aku khawatir nanti sepeninggalku, aku belum bisa membina dan mendidik keluarga ini menjadi keluarga yang sakinah. Keluarga yang dipenuhi dengan Rahmat dan Ridho Allah. Dan kelak di akhirat, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah.”

“Injih Abah.”

Tiba-tiba…

“Nduk, ayo kita pulang! Tuh, kasihan Nak Herman sudah menunggu lama,” ucap Ibunya pelan membuyarkan lamunannya.

“Bu, aku masih kangen Abah. Ijinkan aku barang sebentar untuk mendoakan Abah, ya!” pinta Sasa kepada Ibunya sambil melirik suami tercintanya.

“Ah, wajah tampan itu tersenyum santun kepadaku. Ya Allah aku bersyukur kepadaMu telah Engkau beri aku suami yang sholeh. Suami yang bisa mendekatkanku kepadaMu. Terima kasih Ya Allah,” gumam Sasa sambil mengusap airmatanya.

Lalu dia pun larut dalam doanya.

***
Ini hanyalah latihan menulis, inilah tugas keduaku ketika mengikuti Kelas Menulis. Cerita yang harus diamati, ditiru dan dimodifikasi adalah sebagai berikut :

Jubahku berkelebat hebat di samping pesarean mbah Kyai Jebat. Lelaki kecil itu tak henti-hentinya memandangi mataku yang sudah mulai memerah. "Abah ayo kita pulang!" ucapnya dengan merengek.
   "Lembutkan kata-katamu Le, itu tanda cinta terhadap Nabimu," tegurku.
   "Zauj, biar aku ajak Hadziq keluar dari sini."
   "Khumairu, sebentar lagi petang, tidak akan sempat lagi kita mengajarinya tentang ada dan ketiadaan."
   "Masih ada hari esok."
   "Ingat gunakan waktu luang sebelum waktu sempit, anak kita perlu mengenal kematian, agar kelak dia akan lebih bertaqwa kepada Yang menyembunyikan siang ketika datang waktu malam."
   "Injih Abah."
   Tiba-tiba...
   "Abah ayo kita pulang!" ucap lelaki kecil itu pelan. "Kue tante Lisa yang cantik nanti keburu habis!" bisiknya di telingaku.
   "Kue tante cantik? Astaghfirullah, saran diterima!!" batinku.
   "Bisik-bisik apa siy?!“

***

Minggu, 09 Oktober 2011

KADO TERINDAH

Gambar dari http://www.anneahira.com

Mas Doddy tiba-tiba saja sudah ada di dekatku. Dekat sekali, sambil menatap lekat wajahku. Hingga hembusan nafasnya terasa olehku. Aku jadi salah tingkah. Ah, Mas Doddy masih saja seperti dulu. Sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih pacaran dengannya. Pacaran setelah menikah, begitu indah bila dirasa. Seperti indahnya bunga-bunga surga. Aku tersenyum sendiri dalam hati.
          “Ada apa sih, Mas? Jangan memandangiku seperti itu, ah!” kataku sambil menggeser tempat dudukku. Tapi Mas Doddy tetap saja pada posisinya, tak beranjak sedikit pun. Hingga aku tak bisa bergerak. Malah sesekali tangannya yang kekar itu bergelayut manja di pinggangku. Dia memelukku erat.
“Sayang, jalan-jalan, yuk!” ajak Mas Doddy lembut di telingaku yang sempat menggetarkan hati.
“Bosan di rumah terus. Sekali-kali kita memanjakan diri. Sekalian cari makan di luar. Jadi hari ini nggak usah masak. Gimana, yang?”
          Sebenarnya aku ingin menyampaikan kabar gembira ini secepatnya kepada Mas Doddy. Tapi aku ragu. Bingung. Bagaimana nanti kalau dia mendengar kabar baikku ini? Pastinya dia akan bahagia atau justru tambah kaget, ya? gumamku dalam hati. Tapi aku harus menyampaikan hasil testpackku kemarin. Bismillah, semoga Mas Doddy bahagia mendengar berita ini.
“Yang, kok diam aja, sih? Lagi marah ya, sama Mas?”
“Nggak kok, Mas. Aku cuma bingung memulainya.”
“Mas…”
“Iya, sayang. Ada apa? dari tadi senyam senyum melulu,” sambil mengerlingkan mata elangnya.
“Aku ingin memberikan sesuatu yang terindah buat Mas Doddy. Mau nggak?”
“Apa itu?”
“Kado.”
“Kado> Emang kado buat apa? Mas kan nggak lagi ulang tahun?”
“Iya sih, tapi apa salahnya?”
“Tahu nggak Mas, aku…”
“Aku positif hamil, Mas,” sambil tersenyum kuperlihatkan hasil testpack yang bergaris merah dua padanya.”
Diam tak ada jawaban.
“Benar yang, apa yang barusan kamu katakan? Mas, nggak salah dengar nih? Kok bisa?!” Masih dengan raut wajah tak percaya.
“Iya, Mas. Nggak salah. Aku hamil. Coba lihat baik-baik hasil testpackku!” pintaku sekali lagi. Dia pun kembali mengamati hasil testpackku itu.
Tiba-tiba…
“Alhamdulillah, setengah berteriak tak percaya, Mas Doddy langsung sujud syukur. Tangis pun tumpah seketika. Aku tahu, Mas Doddy begitu bahagia mendengar kabar ini.
Masih terlihat jelas, delapan tahun yang lalu. Mas Doddy menerima hasil resume uji kesuburan dari sebuah Rumah Sakit terkenal di Jakarta. Dan hasilnya negatif. Kaget bercampur sedih. Bagaimana pun Mas Doddy harus menerima kenyataan itu. Kenyataan bahwa selamanya dia tidak bisa punya anak dari darah dagingnya sendiri. Aku percaya, Mas Doddy orangnya kuat dan teguh imannya. Mas Doddy hanya percaya kepada Allah. Allahlah Yang Maha Berkehendak. Allahlah Yang Maha Berkuasa atas segalanya.
Kami tak henti-hentinya berusaha, berdoa dan memohon kepadaMu, Ya Allah. Sepuluh tahun lamanya, aku dan Mas Doddy menanti sang buah hati. Dan penantian itu pun berakhir. Hari ini, Allah mengabulkan doa kami. Terima kasih Ya Allah atas anugerah yang terindah dariMu. Kami pun tersenyum bahagia.

***
Tulisanku ini terinspirasi dari sahabatku sendiri yang sudah menikah selama hampir sebelas tahun tetapi sampai sekarang belum dikarunia keturunan. Semoga Allah Subhanahu wata’ala segera memberi momongan buat mereka berdua. Aamiin.

Menurut pendapat “Proof Reader” terkait dengan tulisanku ini bahwa pertama dalam pengambilan judul sudah bagus, sesuai dengan jalan ceritanya, kedua mengubah alur dari cerita aslinya dan ketiga masih banyak EYD yang perlu diperbaiki. Sempat kena peringatan juga nih karena setiap tugas yang diberikan, aku selalu mengubah alur ceritanya he he memang aku lebih suka seperti itu biar bisa berekspresi sendiri. Murid yang satu ini emang bandel kok he he








 






Jumat, 07 Oktober 2011

AMATI-TIRU-MODIFIKASI


Jangan heran dengan postinganku kali ini. Ini hanyalah sebuah cerita fiktif belaka. Cerita fiksi yang aku tulis ketika mendapatkan tugas pertama kali di Kelas Menulis yang sedang aku ikuti saat itu. Tepatnya ketika mendapatkan tugas menulis dengan cara ATM (AMATI-TIRU-MODIFIKASI). Dan inilah cerita yang harus diamati, ditiru dan dimodifikasi. Silahkan dibaca dan cobalah untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Selamat mencoba, ya!

***
Wanita muda itu tiba-tiba saja sudah ada di pintu kamarku. Wajahnya tidak seperti biasa. Kusut. Bingung. Dia melemparkan amplop coklat ke tubuhku sebelum Aku bangun dari kasur. 
“Lihat...,” katanya.
Aku membuka amplop. Ada Testpack yang masih sedikit basah. Positif. Alisku melengkung sambil melihat wanita muda itu, kakak iparku.

“Mas Arif pasti senang….” Aku bergumam menyebut nama kakakku. 
Aku lalu membuka kertas dengan kop surat sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta. Bertanggal setahun lalu. Sebuah resume uji kesuburan atas nama Arif, kakakku. Negatif.
Aku pucat dan berkeringat.

***
Hemm…bingung juga sih.  Aku sempat terdiam lama mengamati tulisan itu. “Boleh nggak ya, kalau aku menulis selain yang dicontohkan?” tanyaku dalam hati. Kalo itu mah bukan ATM namanya he…he...Aku jawab sendiri dengan batinku. Akhirnya aku paksain deh untuk memulai menggerakkan jemariku. Dan jadilah tulisanku dan aku beri judul “Kado Terindah”

Bersambung...


Rabu, 28 September 2011

TERSENYUMLAH

Sore yang penat. Entah kenapa, rasanya aku tak bisa tersenyum barang sebentar. Capek, letih, lesu, lapar lagi, belum makan sih. Mana sempat? Hari itu begitu menguras tenagaku. Bagaimana tidak? Ada empat agenda kegiatan yang pelaksanaannya hampir bersamaan. Kalau sudah begitu, mau diapain lagi? Ya, dinikmati aja deh, biar semuanya terasa ringan.

Aku yang biasanya ceria, selalu tersenyum dan menyapa siapa saja, hari itu tak satu pun dari mereka aku sapa. Aku lewat begitu saja seperti angin. Wuushh !!! lenyap tak berbekas. Nah, loh! pada heran kan teman-temanku satu kosan.

Malah ada yang bilang, aku lagi marah-an sama itu tuh si Fira. Fira temanku satu kosan yang selalu ceria dan menyapa setiap bertemu denganku. “Mbak, lagi ngapain? Mbak, mau kemana? Mbak, makan bareng, yuk! Mbak, pinjem bukunya, ya! Mbak, cantik, dech! Gubrakk!” dengan senyumnya yang khas. Lucu juga sih he he he
Ada ada saja.

Akhirnya aku tersenyum dan meminta maaf atas sikapku. Aku bilang kalau aku tidak lagi marah padanya dan juga yang lainnya. Ya, begitulah aku. Aku yang biasanya tersenyum, selalu ceria kepada mereka, hanya sekali saja aku berubah sikap ternyata menjadi dampak yang tidak baik buat mereka. Maafin aku saudari-saudariku!

Aku teringat pada sebuah buku yang pernah aku baca. Buku yang menginspirasiku. Buku yang merubah diriku menjadi lebih baik. Buku yang akhirnya aku jatuh hati padanya. “Ketika engkau tersenyum di hadapan orang lain, maka engkau sedang memberikan kepada mereka kehidupan yang indah, penuh optimisme dan kabar gembira yang mereka harapkan. Sebaliknya, jika engkau bertemu seseorang dengan wajah angker, maka engkau telah menyiksa mereka dan menodai kehidupan mereka. Relakah engkau menjadi biang kesedihan orang lain?”

Seseorang mengatakan bahwa “senyum itu merupakan keharusan bermasyarakat”. Karena ketika kita bergaul dengan orang lain, maka kita dituntut untuk berkomunikasi dengan baik. Dan agar bisa berkomunikasi dengan baik, maka salah satu solusinya adalah dengan senyuman.

Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam pun mengajarkan kepada kita untuk selalu tersenyum. Beliau selalu memperlakukan istri-istrinya dengan lemah lembut, dan seyum tak lepas dari bibirnya. Beliau selalu bersikap romantis, senang bersenda gurau, dan pandai menciptakan suasana ceria saat bersama istri-istri beliau. Itulah keteladanan Rasulullah yang patut untuk kita tiru, dan menjadikan keluarga Rasulullah sebagai cermin dalam kehidupan kita.

Oleh karena itu, mulailah dari diri sendiri. Marilah kita berbicara dengan orang lain dengan bahasa kalbu. Alangkah indahnya bibir kita ketika berbicara dengan bahasa senyuman. Jangan menunggu sampai menjadi orang yang bahagia, jika hanya untuk tersenyum. Maka tersenyumlah dari sekarang agar engkau menjadi orang yang bahagia.

Wallahu a’lamu bisshowab

Jumat, 16 September 2011

SEPERTI APAKAH CINTA ?

Cinta itu seperti kupu-kupu, semakin dikejar semakin ia lari tapi kalau cinta itu dibiarkan, ia akan terbang. Dia akan datang pada saatnya. Cinta membuat kita bahagia tapi juga bisa membuat kita merana, resah gelisah, gundah gulana. 

Apalah artinya cinta kalau hanya di bibir saja? Apalah artinya “I love you” kalau akhirnya orang yang kita cintai dengan tulus, begitu mudahnya pindah ke lain hati? Apalah artinya cinta?

Cinta akan berharga kalau diberikan pada seseorang yang juga menghargainya. Anugerah terindah adalah mencinta dan dicinta karena Allah dan kekasihNya serta mencintai Allah dan kekasihNya lebih dari segalanya.

Ya Allah…
Bila suatu saat nanti aku jatuh cinta
Cintakanlah aku pada seseorang yang juga mencintaiku karenaMU
Rindukanlah aku pada seseorang yang juga merindukanku karenaMU

Allahu Robbi…
Bila suatu saat nanti aku jatuh cinta
Jangan biarkan cintaku padanya melebihi cintaku padaMU
Jangan biarkan rinduku padanya melebihi rinduku padaMU

Allahu Robbi…
Aku punya pinta
Bila suatu saat nanti aku jatuh hati
Penuhilah hatiku dengan bilangan cintaMU yang tak terbatas
Biar rasaku padaMU tetap utuh

Ya Robbi…
Bila suatu saat nanti aku jatuh hati
Pilihkan hamba dengan seseorang yang hatinya penuh dengan kasihMU
Dan membuatku semakin mengagumiMU
Pilihkan hamba dengan seseorang yang terbaik menurut pilihanMU

Allahu Robbi…
Pintaku terakhir
Bila suatu saat nanti aku jatuh cinta
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cintaMU
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Allah…
Aku hanyalah hambaMU
Yang hanya bisa meminta
Yang hanya bisa mengharap

Kalau Allah sudah menjawab doaku
Apalagi yang harus aku tunggu

Jika kehidupan ini sebuah lagu, sabarlah menunggu hingga nada yang terakhir, jika kehidupan ini sebuah lukisan goreskanlah warna yang terindah di hati, berikanlah yang terbaik dari dirimu, kelak Allah akan menjawab semua masalahmu dengan kasihNya, Yakinlah selalu semua pasti akan indah pada waktunya.

Selasa, 19 April 2011

TEORI LIMA ORANG

Siang ini, kantorku tak seramai biasanya. Tak banyak tamu datang untuk berkonsultasi. Apa karena mau hujan ya? Di luar terlihat mendung menggantung, mungkin sebentar lagi hujan turun. “Santai dulu, ah!” Mumpung nggak ada tamu, aku gunakan waktu luangku untuk berkelana di dunia maya. Lama aku tidak menyapanya karena kesibukanku yang berjibun.
          Kucoba membuka emailku. Ada satu email yang membuatku bertanya-tanya,”Email dari siapakah ini?” senyumku dalam hati. Ternyata email itu dari Pak Arman, sebut saja seperti itu. Dia adalah pimpinan kantorku. Aku jadi penasaran ingin secepatnya membuka email itu.
          “Teori 5 Orang”.
Sebuah filosofi dr Charles Schulz, penulis “Peanuts” Comic strip. Siapa ya ini? Nama itu begitu asing bagiku, baru kali ini aku dengar.
1.    Siapa nama 5 org terkaya didunia?
2.    Siapa nama 5 pemenang tropy?
3.    Siapa nama 5 miss america terakhir?
4.    Siapa nama 5 org pemenang nobel?
5.    Siapa nama 5 org pemenang Academy Award?
“Lima orang terkaya di dunia? Siapa ya? Lima orang pemenang tropy? Maksudnya apaan? Lima Miss America terakhir? Mungkin masih bisa dijawab. Pemenang Nobel? Academy Award? Tahu, ah, gelap!” Emang pertanyaannya yang sulit atau akunya yang nggak bisa jawab? 
Aku meneruskan membaca email itu. Kali ini ada lima lagi pertanyaan. Kayak ujian saja, batinku
1.    Siapa nama 5 guru yg telah membantu anda dalam perjalanan sukses anda disekolah?
2.    Siapa nama 5 teman yang membantu anda dalam waktu kesulitan?
3.    Siapa nama 5 org yg mengajarkan anda sesuatu yg berharga?
4.    Siapa nama 5 org yg membuatmu merasa dihargai dan special?
5.    Siapa nama 5 org yg anda sangat menikmati waktu bersamanya?
“Kalau yang ini sih, insya Allah semua orang bisa menjawabnya tanpa berpikir panjang karena kita akan selalu ingat siapa saja yang telah berjasa dalam kehidupan kita. Setiap orang akan menjawabnya dengan mudah, yang pasti jawabannya tidak akan sama.”
***
Ketika penghargaan itu diraih, misalkan saja penghargaan sebagai orang terkaya di dunia, sebagai Miss America terakhir, atau sebagai pemenang academy award. Saat itu juga, riuh tepuk tangan dari para penggemar dan pendukungnya membahana, ibarat menyambut kedatangan Ratu sejagad. Tapi ketika tepuk tangan itu telah sirna, pencapaian telah dilupakan dan penghargaan pun beralih ke tangan orang lain. Masih ingatkah kita?
Tidak ada seorangpun dari kita yang masih mengingatnya, yang diingat adalah orang yang telah menggantikannya dan begitu seterusnya.
          Akan lain halnya, apabila kita mengingat orang-orang yang selalu peduli dan mengasihi kita dengan tulus, seperti guru yang telah membantu kita dalam perjalanan sukses kita di sekolah, teman yang membantu kita dalam keadaan kesulitan, atau orang-orang yang telah mengajarkan kita sesuatu yang berharga, yang membuat kita merasa dihargai dan diistimewakan, atau bahkan orang-orang dimana kita sangat menikmati waktu bersamanya. Begitu mudah kita mengingatnya dan akan lebih mudah lagi menyebutnya.
           “Teori 5 Orang” dari dr Charles Schulz, penulis “Peanuts” Comic strip ini memberikan pelajaran buat kita, bahwa orang-orang yang selalu mengingatkan kita adalah bukanlah orang-orang yang memenangkan sebuah penghargaan tapi mereka adalah orang-orang yang peduli dan mengasihi kita dengan tulus ikhlas.
Oleh karena itulah, kita seharusnya menghargai waktu kita, ketika kita bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, orang-orang yang mengasihi dan menyayangi kita,  menerima kita dengan ketulusan dan keikhlasannya terutama keluarga kita, orang-orang yang selalu dekat dengan kita. Karena waktu selalu berjalan, dan kita tidak pernah tahu dan tidak akan mungkin tahu apa yang akan terjadi ketika orang-orang yang kita cintai dan kita harapkan dipanggil oleh-Nya.
Alhamdulillah, hari ini aku mendapatkan pencerahan. Begitulah Pak Arman, pimpinan kantorku. Orangnya low profile, bijaksana dan tentu saja sabar. Walaupun beliau seorang pimpinan, memperlakukan kami bukan sebagai bawahannya, tapi lebih sebagai partner kerjanya.
Disela-sela kesibukannya, beliau selalu menyempatkan waktu luangnya untuk berkunjung ke kantor, sekedar menyapa dan menanyakan bagaimana keadaan kami di kantor. Apakah kantor ada masalah atau tidak? Apakah ada yang perlu dibantu? Apakah kami bisa bekerja dengan baik dan nyaman? Dan selalu saja diantara obrolan itu, diselipkan kata-kata bijak sebagai pesan berharga buat kami agar kami bisa mengambil hikmah dan pelajarannya.
Ya…seperti sekarang ini, pesan-pesan yang penuh makna itu diselipkan diantara email-emailku.
Wallahu’alam bis shawab