Rabu, 03 Oktober 2012

Renungan Indah Hari Ini



Iman pergi ke sebuah Klinik untuk check up kesehatan rohani.
Pertama kali datang, Iman diukur tensi darahnya, ternyata Iman memiliki KELEMBUTAN HATI yang rendah.

Ketika temperatur Iman diukur, termometer menunjukkan derajat KEGELISAHAN hampir mencapai 40 derajat.

Ketika pemeriksaan jantung, saluran arteri tersumbat oleh berbagai KEKECEWAAN, KESEDIHAN, KEMARAHAN dan DENDAM sehingga memerlukan BY PASS.

Ketika Iman ke bagian Orthopedic, kelihatan tulang-tulang Iman mulai keropos oleh rasa CEMBURU dan IRI.

Dan pada saat memeriksakan mata yg mulai terganggu penglihatannya, diketahui penyebabnya karena mata iman sering MELIHAT KEKURANGAN orang di sekitarnya, sehingga kemampuan mata iman untuk melihat hal-hal yang indah dan baik mulai tertutup.

Dan ketika Iman mengeluhkan pendengarannya, terapis menyarankan Iman untuk mulai LATIHAN MENDENGAR SUARA KALAM ILLAHI DAN SESAMA setiap hari untuk lebih mensensitifkan pendengaran.

Setelah menjalani semua check up itu Iman mendapat konsultasi dan obat gratis atas kemurahan Alloh SWT utk mengobati semua penyakit nya tsb.

Obat yang diberikan adalah :
1. Setiap pagi minum segelas "RASA SYUKUR" atas segala yang dimiliki.

2. Setiap siang minum sesendok PIKIRAN POSITIF dan sesendok PENGAMPUNAN (mohon ampunan)

3. Setiap jam minum satu buah pil KESABARAN, secangkir KERENDAHAN HATI dan satu mangkuk KASIH.

4. Setiap pulang ke rumah sore hari minum satu dosis CINTA .

5. Setiap malam sebelum tidur minum kaplet SUARA HATI yang jernih, satu pil anti KESEDIHAN dan KEPUTUSASAAN krn peristiwa-peristiwa yang dialaminya hari ini.

6. Tidur berselimutkan DOA dan PENGHARAPAN .


Cara penyembuhan yang sangat murah tanpa biaya karena kekuatan terbesar itu ada pada diri kita sendiri untuk selalu mengingat akan kebesaran اَللّه


Semoga bermanfaat.

Sumber : Jaringan Iqtishodi Ash Shofvah
Gambar diambil dari http://www.tifanianglila.com

Jumat, 28 September 2012

Aku Akan Sabar Menunggu




Sudah keringkah airmatamu, Dik? Tiap kali kudengar isakmu, aku selalu dihinggapi rasa bersalah yang tak mudah untuk dienyahkan. Entah mengapa, ia seperti sebentuk bayangan hantu yang sepertinya selalu berdiri di belakangku. Sayap hitamnya akan mengepak menyergap diriku tiap kali tangismu mengembang. Runcing taringnya akan menghujam tubuhku tiap kali titik air membasahi sudut matamu. Dosa macam apakah yang telah kulakukan padamu, adikku? Kapankah ini akan berakhir? Barangkali sudah sekian kali aku salah langkah di matamu ... tanpa aku tahu. Meski yang kulakukan, menurutku, adalah yang terbaik, yang mampu kukerjakan.

Di hari yang fitri ini, sekali lagi, Masmu, yang telah banyak mengecewakanmu ini, minta maaf padamu dengan setulus hati. Yuk, kita perbaiki untuk hari-hari mendatang. Semoga Allah segera memenuhi harapan-harapanmu, dan tentu harapanku juga. Aamiin

Masmu yang sering mengecewakanmu

###

Segera kulipat surat itu dan kusimpan rapi di dalam buku diaryku yang tak lagi berwarna ditelan usia. Belasan tahun sudah, surat itu masih saja ada di sana. Tahukah engkau? Setiap kali aku membaca suratmu, air mataku tak pernah berhenti mengering. Aku menyadari, semua yang engkau lakukan itu adalah yang terbaik untukku. Maafkan aku, Mas!

Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga Mas sekeluarga dalam keadaan sehat wal’afiat dan senantiasa dalam ridho-Nya. Sengaja aku menulis surat ini untukmu agar engkau tahu bagaimana dalamnya hatiku.

Mas yang selalu kurindu,
Setiap kali aku melihat Mas termenung, diam tak banyak bicara. Ingin rasanya aku mengajakmu bercanda, tertawa tapi aku bingung darimana aku harus memulainya? Senyum yang dulu selalu menghiasi wajahmu, sekarang tak lagi kutemui. Begitu juga dengan segala nasehatmu, tak kudengar lagi dari mulutmu. Tahukah, Mas? Aku kangen semua itu.

Masih ingatkah? Ketika aku pulang sekolah tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aku hanya bisa termenung di sudut depan kelas, berharap ada yang menjemputku. Waktu itu, telpon rumah belumlah ada apalagi hape. Terlintas keinginanku untuk pulang sendiri dengan berjalan kaki tapi hujan tak bisa diajak kompromi. Sekolah pun mulai sepi, tapi aku masih saja berdiri di sana menunggu jemputanmu yang tak pasti.

Tiba-tiba kulihat dari kejauhan, Mas muncul dari balik pintu gerbang sekolah dengan mengendarai sepeda onthel kesayanganmu. Senyummu yang khas terlihat dibalik setangkai daun pisang yang kau bawa dengan tangan kirimu. Segera kau percepat laju sepedamu dan menghampiriku yang tak lagi sabar menunggu.

“Udah sepi, ya? Maaf, tadi hampir saja Mas lupa tidak menjemputmu.”

Kamu pun tersenyum sambil memberikan setangkai daun pisang itu kepadaku.
Aku pun ikut tersenyum malu menyambutmu.

“Trus, Mas pakai apa?”


“Mas nggak usah, pakai aja, nanti kamu sakit.”


Akhirnya aku menuruti saja perintahnya. Dia pun membiarkan tubuhnya basah kuyup demi aku, adikmu. Jujur, dalam diam aku mengagumimu. Begitu cinta dan sayangnya engkau kepadaku. Air mataku mengalir deras, sederas air hujan yang turun saat itu.

Dan ketika aku mulai mengenal yang namanya cinta, engkau selalu berkata,

“Sudahlah, serahkan semua kepada Allah. Kalau memang sudah waktunya, insya Allah, Dia akan memenuhi janjiNya. Percayalah padaNya, adikku. Mas nanti yang akan mencarikan, nggak perlu pacaran.”


Mas, tahukah engkau? Aku kini sudah tak muda lagi. Teman-teman sebayaku sudah mulai meninggalkanku, hidup bahagia bersama pilihannya. Dan aku tahu engkau pun tak henti-hentinya mencarikan belahan jiwa untukku seperti yang pernah engkau bilang kepadaku.

Dan setiap kali aku gagal berproses dengan seseorang, engkau juga yang selalu menguatkanku.

“Inilah jawaban dia. Terimalah dengan lapang dada serta sabar, seraya terus berharap kepada-NYA. Aku pun berdoa demikian untukmu. Selalu.” 


Tanpa membaca kalimat selanjutnya, aku pun sudah tahu maksud dari jawaban itu. Kalimat itulah yang masih saja terngiang di telingaku, membuatku semakin tegar dan kuat.

###

Bulan pun berganti tahun. Sudah sekian lama aku menunggu tapi hingga kini, Allah belum memenuhi harapan-harapanmu dan juga harapanku.

Jujur, ada setetes air bening jatuh di pipiku mengingat semua yang pernah terjadi. Apakah ada yang salah pada diriku, hingga Engkau belum mengabulkan permohonanku?

Ya Allah, ampuni hambaMu ini, 
Ampuni aku Ya Robbi
Ampuni atas segala khilaf dan dosa-dosaku
Dekatkanlah selalu aku padaMu
Ajari aku untuk selalu ikhlas dan ridlo menerima segala keputusanMu

Hanya satu pintaku
Jadikanlah ujian demi ujianMu ini sebagai penguat hatiku
Jangan biarkan aku jauh dariMu dan rapuh karenanya.

Masku yang berhati baik,
Kutulis surat ini dengan berlinang air mata. Terima kasih atas semuanya. Semua perhatian, cinta dan kasih sayang yang telah engkau berikan kepadaku. Jangan pernah berhenti mencarikan belahan jiwa untukku. Aku akan sabar menunggu sampai nafas terakhirku.


Rara,

Adikmu yang selalu setia menunggu hari indah itu datang menyapanya


Kamis, 20 September 2012

Hidup Tak Luput Dari Masalah


Konon di sebuah desa kecil di lereng pengunungan ada seorang penasehat yang bijaksana. Suatu hari seorang wanita yang putra satu-satunya telah meninggal, mendatangi penasehat tersebut dan bertanya, "Kekuatan apa yang anda miliki yang dapat mengobati rasa kecewa dan sakit hatiku?"

Ketika sang penasehat itu telah mendengar semua kisah hidup wanita ini, ia pun berkata,"Ada nyonya, tapi syarat pertama anda harus membawakan saya segenggam benih padi dari sebuah keluarga yang tidak memiliki masalah."

Wanita itu pun segera pergi ke sebuah rumah termewah di desa itu dan berpikir tentu tidak ada yang salah di rumah ini. Setelah ia menemui pemilik rumah, ia pun mendengar cerita yang sebaliknya, bahwasanya tuan rumah menceritakan ada banyak masalah yang jauh lebih besar yang belum pernah ia dengar.

Ia pun mendatangi rumah yang lain dan bertanya,”Apa keluarga anda tidak memiliki masalah?” “Justru kami memerlukan penasehat yang bisa mengeluarkan kami dari masalah yang kami hadapi,” jawab penghuni rumah itu.

Di lain hari ia pun mencoba mendatangi rumah demi rumah dan berharap apa yang ia cari selama ini bisa ia temukan tapi jawaban apa yang ia dapat dari penghuni rumah itu? Jawaban mereka pun tak jauh beda, “Oh, anda datang ke rumah yang salah. Tidak ada sebuah keluarga yang tanpa memiliki masalah.”

Setelah sebulan dalam pencarian, akhirnya ia kembali ke penasehatnya. Dan ia pun berkata, "Maaf Bapak, saya tidak dapat menemukan keluarga yang tidak memiliki masalah. Malahan saya banyak menasehati dan menguatkan beberapa keluarga yang begitu menyedihkan."

Penasehat itu bertanya,”Apakah hatimu masih sakit?"

Sambil tersenyum ia pun menjawab, "Tidak lagi Bapak. Setelah saya tahu orang yang nampaknya bahagia ternyata ia memiliki masalah yang jauh lebih banyak dari saya."

###

Kisah inilah yang menggugah hati saya untuk lebih menata hati dan memperbaiki diri ke yang lebih baik.

Banyak orang terjebak pada pola pikirnya sendiri, sehingga ia merasa menjadi orang yang paling malang, tidak seperti orang lain yang kelihatan begitu bahagia.

Kadang kita begitu sibuk memikirkan diri kita sendiri dan terlalu sibuk menjumlah kesulitan-kesulitan yang kita alami tapi ternyata kita lupa menghitung berkah dan segala kebaikan yang selama ini telah kita terima.

Jazakumullah saya haturkan kepada Bapak Soehar Djoepri yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi cerita penuh hikmah ini. Maaf ada beberapa kalimat yang sengaja saya rubah tapi yang pasti tidak merubah inti ceritanya.

Alhamdulillah melalui postingan ini menyadarkan saya bahwa rumput tetangga itu belum tentu lebih hijau dari rumput kita sendiri, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjadikan rumput kita lebih hijau, bukan hanya terlihat hijau tapi benar-benar hijau.

Wallahu’alam bisshowab

Gambar saya ambil di http://yuliani89.blogspot.com

Selasa, 11 September 2012

Terima Kasih Sayang

Ketika aku sampai di rumah Kakakku, tiba-tiba lampu mati begitu saja. Tapi anehnya, kenapa kok hanya di rumah Kakakku ya? Seketika itu juga tangis Ifa pun pecah. Ifa adalah keponakanku yang nomor enam dari Kakakku yang pertama. Aku tahu, dia itu takut sekali dengan gelap.

“Assalaamu’alaikum!” Tak ada jawaban

“Assalaamu’alaikum…!” Sekali lagi aku memberi salam.

Tetap tak ada jawaban, hanya terdengar tangisan Ifa. Buru-buru aku membuka pintu takut terjadi apa-apa dengan Ifa. Lho, pintu juga tidak dikunci, ada apa ini? Ketika aku membuka pintu, ternyata Mas Azril lagi asyik main game. Azril adalah keponakanku yang nomor empat.

“Assalaamu’alaikum, Mas Azril…!” Diam aja.

“Mas Azril…, kok tidak dijawab?” tanyaku ketika itu.

“Menjawab salam itu wajib, lho!” Dia pun akhirnya menjawab juga tapi sambil menggerutu, entah apa maksudnya.

“Bulik, Mbak Ais itu lho yang matikan lampunya. Kasihan Dik Ifa, dari tadi nangis terus. Dik Ifa kan takut gelap, Bulik.”

“Trus mana Dik Ifanya?” Akhirnya aku pun masuk ke ruang tengah. Eh tiba-tiba lampu ruang tengah menyala, Byaarrr!”

“Selamat Ulang Tahuuun…!!” serentak semua pada keluar dari tempat persembunyiannya hehehe…

“Eh, ada apa ini?” tanyaku sambil tersenyum.

“Selamat Ulang Tahun, Bulik... Ini kue ulang tahunnya tapi bukan kue tart. Ayah sih nggak bilang-bilang kalau Bulik ulang tahun hari ini, jadinya kita nggak bisa siap-siap. Kadonya juga, nggak sempat nyari.” Fia pun memberikan setumpuk kue mariyam padaku. Justru aku yang lupa kalau hari itu ulang tahunku hehehe udah tua sih.

“Udah nggak pa pa, bukan salah siapa-siapa. Bulik udah seneng kok. Ma kasih ya, sayang.” Tak terasa air mataku pun menetes. Halah cengeng.

“Bulik, Bulik jangan nangis, dong!”

“Bulik nggak nangis kok, cuma mengeluarkan air mata aja.” Senyumku pun mengembang, entah wajahku seperti apa saat itu.

“Sama aja, Bulik.” Hahaha. Semua pada ketawa bahagia.

“Ayo, mana es krimnya tadi? Kasih ke Bulik, biar Bulik aja yang bagi!” Ibunya pun mengingatkan kalau masih ada menu special lagi.

Hemm…yummiii…

Mendengar celotehan mereka, aku pun hanya bisa diam dan tersenyum bahagia. Dan ketika aku menuliskannya lagi disini, tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata karena saking bahagianya. Sungguh. Terima kasih ya, sayang.

Sayang, di hari special itu tak satu pun diambil gambarnya :) pada keasyikan makan es krimnya sih :)

Bagi temen-temen yang belum tahu roti mariyam, ini nih bisa dilihat seperti apa roti mariyam itu. Terpaksa deh nyari di internet hehehe





Kamis, 30 Agustus 2012

APA !!??


“Mbak Ais, Ibu minta tolong dong mandikan Dik Azril!”
“Nggak mau, suruh mandi sendiri aja, Bu!” jawab Ais cemberut.
“Bukan begitu, Dik Azril kalau mandi sendiri belum bisa bersih terutama bagian belakang, dia belum bisa menggosoknya sendiri,” Ibunya menegaskan.
“Nggak mau, Bulik aja yang mandikan!”
“Bulik itu udah mandikan Dik Afa, jangan semuanya Bulik Mbak Ais, Bulik juga capek,” jawab Ibunya kala itu.

Dia diam saja, lagi asyik sendiri rupanya.

“Ayoo…cepetan.., keburu kedinginan, Mbak Ais!” Azril pun udah tak tahan lagi.
“Nggak mau, Zrill...!!”
“Mbak Ais, Ibu lagi repot nih nyiapin makan pagi. Ayah juga, harus buat laporan yang dikirim pagi ini. Sekarang bagi-bagi tugas dong, Mbak juga lagi nggak ada,” Ibunya menjelaskan panjang lebar.

Dia pun tetap diam, masih asyik dengan gambarannya. Dari tadi aku cuma sebagai pendengar saja tapi akhirnya angkat bicara juga.

“Iya, Mbak Ais. Ayo, segera dimandikan tuh adiknya!” Aku pun ikutan memberi semangat.
“Nanti aku kasih uang, Mbak Ais!” Tiba-tiba Si Azril mulai memberi kompensasi hehehe
“Emang kalau mau mandiin, dikasih uang berapa, Mas Azril?” Aku pun bertanya sekedar ingin tahu saja.
“Emmm…berapa ya? Azril pun menimbang-nimbang.
“Aku kasih dua puluh ribu. Eehh...lima puluh ribu wis. Mau ta, Mbak Ais?” sambil senyum-senyum sendiri.
“Haah…lima puluh ribu!!?? Mas Azril, nggak salah, tuh!?” kaget juga aku. Ya begitulah Si Azril kalau lagi banyak duitnya. Bagaimana tidak banyak, setiap keliling silaturrahim mesti dikasih angpao. Enak ya jadi anak kecil hehehe

“Gimana Mbak Ais? Banyak lho, dapat lima puluh ribu, lumayan kan!?” Sekali-kali jadi provokator hehehe. Aku hanya ingin tahu saja apakah dengan uang itu dia berubah pikiran ataukah masih bertahan dengan pendiriannya?

“Nggak!!” jawab Mbak Ais mantap.

Hemm…masih bertahan juga tapi dalam hatiku, Yes!! terus bertahan Mbak Ais, jangan hanya gara-gara uang lantas kamu berubah pikiran.

“Kenapa nggak mau, Mbak Ais. Dik Azril itu udah berbaik hati, lho!” Aku pun mencoba membujuknya.
“Nggak mau, Bulikkk…!!”
“Emangnya kenapa?” tanyaku sekali lagi.
“Nanti dibilang aku mata duitan,” jawabnya tegas sambil melirikku.
“Hahaha…”

Akhirnya semua pada ketawa mendengar jawabannya. Tak disangka kalau dia akan menjawab seperti itu. Udah dewasa rupanya hehehe

“Ya udah, Mas Azril mandi sama Bulik aja, yuk!” Aku pun menawarkan bantuan, bukan bermaksud apa-apa, aku hanya nggak tega melihat dia udah kedinginan tanpa baju melekat di tubuhnya.

“Berarti.., Bulik mata duitan, dong!!”

“Apa!!???”

“Errgggghhhhhh…Mas Aziiilllll…..!!! sambil kucubit tuh pipinya, eh…malah dia ketawa.

“Haah..menyebalkaan!!