“Maukah kamu menjadi istriku?”
Kata-kata itulah yang sempat melambungkan angan-anganku. Menggetarkan hati dan jiwaku saat itu. Mimpikah aku? Sempat ada keraguan tapi kutepis semua itu.
“Maukah kamu menjadi istriku?”
Kembali dia mengulangi kata-katanya. Jantungku terasa berhenti berdetak. Belum pernah satu pun laki-laki yang berani mengungkapkan kata-kata itu kepadaku. Aku menahan nafas mendengar tawarannya. Sungguh diluar dugaanku.
Aku hanya bisa berkata," Aku masih punya orang tua. Aku bicarakan dulu dengan kedua orang tuaku. Apakah nggak sebaiknya kita sholat istikharah terlebih dahulu? Jadi kita sama-sama memohon kepada Allah untuk memantapkan hati. Kita tidak tahu “Rahasia” Allah dibalik semua itu. Kalau kita sudah melakukan sholat istikharah, nantinya apa pun yang terjadi dan bagaimana pun hasilnya, kita bisa menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada atas keputusanNya. Insya Allah aku jawab maksimal setelah sholat Idul Adha, kira-kira empat hari lagi. Tapi tidak menutup kemungkinan tidak sampai empat hari, kalau memang sudah ada jawaban akan aku sampaikan langsung. Gimana?”
”Ya sudah, nggak apa-apa. Aku tunggu, assalaamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
***
Belum sampai empat hari, Allah sudah menjawab semua doaku. Inikah jodohku? Inikah belahan jiwaku yang Engkau pilihkan untukku? Hari itu aku semakin mantap. Aku ingin hidup bersamanya, bersama pilihanMu Ya Robbi.
Aku ingin segera menyampaikan berita gembira ini. Akhirnya aku beranikan diri untuk menelponnya. Tapi jawaban apa yang aku terima? Sungguh tak kusangka dengan semua pengakuanmu.
“Bagaimana dengan yang kemarin?” tanyaku kala itu tanpa basa-basi terlebih dahulu.
“Kemarin…, yang mana?”
“Kemarin kan nawarin aku menjadi istrimu?”
“Ohh…yang itu. Kemarin aku cuma nanya aja kok. Nggak sungguhan.”
Dengan santainya dia menjawab semua itu.
Aku terdiam, tak mampu berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba aku menangis begitu saja mendengar jawabannya. Dia bingung mendengar suaraku serak sambil terisak. Aku belum pernah menangis sehebat ini di depan laki-laki yang bukan muhrimku. Tapi aku tidak tahu, kenapa aku harus menangis?
Akhirnya dia mengaku. Dia dulu pernah dikecewakan seseorang, menikah dengan orang lain tanpa sepengetahuannya. Dia merasa trauma dan tidak mau kejadian itu terulang lagi. Dia tidak menyangka kalau ternyata aku menerimanya. Dia pikir aku tidak akan menerimanya karena setiap kali mengajakku jalan berdua, aku selalu menolaknya. Aku bilang tidak baik jalan berdua kalau belum ada ikatan apa-apa.
Dia ingin aku menjawabnya detik itu juga, tidak perlu menunggu sholat istikharah atau rundingan dulu dengan keluargaku. Akhirnya dia pun memilih orang lain yang dia anggap lebih baik.
Secepat itukah? Hanya karena takut aku menolaknya lantas dia begitu gampangnya pindah ke lain hati? Tak sabarkah dia menungguku barang sebentar? Aku hanya ingin pacaran setelah menikah. Itu akan lebih indah pada akhirnya.
Ya Allah…
Salahkah aku?
Bila dalam segala urusanku
Aku menyertakanMU…
Salahkah aku?
Bila dalam setiap langkahku
Aku bersandar kepada-MU
Ampuni hambaMU ini Ya Robbi…
***