Senin, 30 Mei 2011
Rabu, 27 April 2011
MENYIMPAN RASA
Sosok itu begitu sempurna dimatanya. Dialah sosok laki-laki yang menyejukkan hati, menggetarkan jiwa. Sosok yang membuat hidupnya lebih berwarna. Begitu indah bila dirasa.
Berawal dari sebuah kedekatan, saling berbagi cerita, saling bertelepon, saling memberikan perhatian, saling menyanjung dan banyak hal lain. Semua mengatasnamakan persahabatan.
Sampai suatu saat, sosok laki-laki itu meninggalkannya begitu saja tanpa kabar berita bak ditelan bumi. Separuh jiwanya pun pergi. Sosok itu membuatnya memar jiwa.
Matanya berkaca-kaca. Perempuan itu masih terus berharap dan menunggu datangnya sosok itu. Salahkah dengan perasaannya? Inikah yang dinamakan persahabatan? Persahabatan yang didasari atas nama cinta? Persahabatan yang akhirnya membawa luka di hatinya. Batinnya bergejolak.
Di penghujung malam, dalam sujud terakhirnya. Perempuan itu menyadari atas segala kekhilafannya.
“Ya Allah, aku mohon ampun atas segala khilafku. Aku masih menyimpan rasa dan berharap lebih padanya. Ya Robbi, jauhkan diriku dari hal-hal yang mengotori hati. Aku hanya ingin persahabatan ini berakhir indah.”
Selasa, 26 April 2011
TANGIS SUJUDKU
Di sepertiga malam-Mu
Kutenggelamkan wajahku
Kutumpahkan segala yang menyesakkan dadaku
Dalam tangis sujudku
Ya Allah…
Akankah Engkau dengar bait-bait doaku
Akankah Engkau ampuni dosa-dosaku
Aku malu Ya Robbi…dihadapan-Mu
Ilahi Robbi…
Allah Yang Maha atas segalanya
Aku percaya Engkau Maha Mendengar
Aku percaya Engkau Maha Pengampun
Ya Allah…
Tuntunlah aku ke jalan-Mu
Jalan yang lurus
Rabu, 20 April 2011
HUKUM MENANGISI MAYIT
Ketika salah seorang cucu Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, yang masih kecil (putri dari sayyidatina Zaenab) mendekati ajal, maka sayyidatina Zaenab mengirim utusan untuk menghadap Rasulullah agar beliau berkenan menjenguk cucunya. Akan tetapi Rasulullah justru menyuruh utusan tersebut untuk kembali kepada putrinya sambil berpesan :
إِنَّ اللهِ مَاأَخَدَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ فَلْتَحْتَسِبْ
"Sesungguhnya apa yang diambil dan diberikan itu milik Allah. Dan segala sesuatu yang ada pada Allah itu dengan batas yang ditentukan. Maka perintahlah, hendaknya ia bersabar dan mencari pahala dari Allah."
Mendengar pesan dari Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam yang disampaikan oleh utusannya tersebut, Sayyidatina Zaenab belum merasa puas. Dia tetap berharap bahwa Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam harus hadir untuk menyaksikan cucu beliau yang sedang naza'. Hingga akhirnya pergilah Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam bersama Sa'ad bin Ubadah, Mu'adz bin Jabal serta Usamah bin Zaid ke rumah Sayyidatina Zaenab. Kemudian dihaturkannya cucu beliau yang nafasnya sudah tersendat-sendat. Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam pun mengeluarkan air mata hingga Sa'ad bin Ubadah bertanya, ”Ya Rasulullah mengapa engkau sampai mengeluarkan air mata?”. Maka Rasulullah pun menjelaskan :
هَذِهِ الرَّحْمَةُ وَجَعَلَهَا اللهُ فِى قُلُوْبِ عِبَادِهِ وَ إِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءِ
" Ini adalah rasa kasih sayang yang diberikan Allah di hati hambaNya dan sesungguhnya Allah yang memberi rasa kasih sayang pada hambaNya yang berkasih sayang."
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, & Ibnu Majah)
Dari hadits tersebut, kita dapat mengambil satu hukum bahwa secara syara’, menangisi mayit adalah boleh. Bukan karena menyesali kematiannya, tetapi karena lunaknya hati.
Disisi lain, Abdullah bin Umar pernah melihat Hafshoh binti Umar menangisi kematian ayahnya. Kemudian dia berkata, ”Sebentar wahai saudaraku, apakah engkau tidak mengerti bahwa Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam pernah bersabda :
إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ
" Bahwa mayit diadzab karena tangisan keluarganya."
(HR. Nasa’i & Muslim)
Menurut Sayyidatina Aisyah, dalam hal ini Abdullah bin Umar tidak berbohong tentang hadits tersebut. Hanya saja mungkin dia lupa akan asbabul wurud hadits tersebut atau kurang tepat dalam memahaminya. Hadits tersebut meski secara dhohir bersifat umum, tetapi bukan larangan umum karena memang ada peristiwa khusus yang melatarbelakangi hadits tersebut. Hal ini dijelaskan dalam hadits Aisyah Radiyallaahu ’Anhu :
Suatu saat Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam lewat di tengah jalan dan melihat seorang perempuan Yahudi meninggal dan ditangisi keluarganya, maka kemudian Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam bersabda :
إِنَّهُمْ لَيَبْكُوْنَ عَلَيْهَا : وَإِنَّهَالَتُعَذَّبُ فِى قَبْرِهَا
" Bahwa mereka menangisi kematian perempuan Yahudi itu, dan sesungguhnya perempuan Yahudi tersebut diadzab dalam kuburnya."
Hal ini berhubungan dengan budaya Yahudi yang mewasiatkan pada keluarganya agar ditangisi saat kematiannya. Jadi Yahudi tersebut diadzab karena wasiatnya. Ini sesuai dengan Qur’an Surat Al An’am ayat 164 :
وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
" Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain."
Dari hadits tentang menangisi mayit ini, terjadi khilaf diantara ulama' :
1. Pendapat pertama, secara mutlak melarang menangisi mayit.
2. Pendapat kedua, membolehkan menangisi mayit karena cenderung pada komentar Sayyidatina Aisyah tentang asbabul wurud hadits tersebut.
Untuk melepaskan khilaf tersebut, maka ditarik kesimpulan bahwa:
1. Menangisi mayit yang tidak ada rasa penyesalan atas kematian mayit (karena setiap orang pasti akan mati), tidak pula dengan niyahah (semacam ngomel dan menyesali kematian) adalah boleh, hal ini karena tumbuh dari lunaknya hati dan rasa kasih sayang.
2. Sebaliknya, menangisi mayit karena menyesali atas kematian mayit dan disertai dengan niyahah (semacam ngomel dan menyesali kematian), maka berlaku arti hadits “yu’adzdzabu” yang makna bahasanya littahdid (menakut-nakuti). Hal seperti ini tidak diperbolehkan dalam Islam.
PENTINGNYA MENDATANGI MAJELIS ILMI
Banyak hadits yang menyebutkan tentang dianjurkannya kita untuk mendatangi majelis-majelis taklim (majelis ilmi) guna mengkaji kalam-kalam Allah, di mana di antaranya disebutkan bahwa :
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, beliau berkata bahwa Rosulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda :
“ … Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga…” (HR. Muslim)
Hadits di atas menganjurkan kita untuk mendatangi majelis ilmi. Majelis ilmi adalah sebuah tempat di mana kita bisa menggali ilmu agama sebanyak-banyaknya, bisa di masjid atau tempat yang biasa untuk taklim atau pengajian yang di dalamnya mengkaji tentang ilmu-ilmu agama. Inilah salah satu jalan untuk memudahkan kita menuju surga.
Di sela-sela kesibukan kita mencari bekal untuk dunia, marilah kita luangkan waktu sebisa mungkin untuk mencari ilmu Allah sebagai bekal di akhirat kelak. Hal ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Jangan karena kesibukan dunia akhirnya kita melupakan akhirat kita. Sesibuk apapun marilah kita usahakan untuk mendatangi majelis-majelis taklim. Dengan begitu, Insya Allah kita dimudahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menuju surga-Nya.
Sedangkan untuk menuju surga-Nya, tidak cukup hanya mencari ilmu Allah dengan hanya membaca buku-buku, majalah-majalah Islam atau juga tulisan-tulisan atau artikel-artikel yang bisa kita dapatkan lewat internet. Itu semua hanya untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang ilmu-ilmu Allah.
Dan tidak cukup pula dengan hanya melakukan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang muslim seperti shalat, puasa, zakat, tetapi Allah menganjurkan kepada hamba-Nya untuk mendatangi majelis-majelis taklim atau yang biasa disebut dengan majelis ilmi, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa salam bersabda :
“ Hai Abu Dzar, jika engkau pergi lalu mempelajari satu ayat dari kitab Allah adalah lebih baik bagimu daripada kamu shalat 100 rakaat. Jika engkau pergi lalu mempelajari suatu bab ilmu yang dapat diamalkan adalah lebih baik bagimu dibandingkan kamu shalat 1000 rakaat”. (HR. Ibnu Majah)
Apabila kita mendatangi majelis ilmi, maka tidak hanya ilmu yang bisa kita dapatkan tapi juga kita akan didoakan oleh beribu-ribu Malaikat, bukan Malaikat saja, semut-semut dalam lubangnya, juga ikan-ikan dalam luasnya samudra tidak mau ketinggalan mengirimkan sholawat pada kita yang hadir dalam sebuah majelis ilmi. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi :
“Allah dan para Malaikat dan penduduk langit dan bumi, hingga semut dalam lubangnya dan ikan mengirimkan sholawat pada orang-orang yang mengajari manusia dalam kebaikan”.
(HR. At-Tirmidzi)
Apalagi kalau hati kita lagi gundah gulana, resah gelisah, maunya pengin marah-marah misalkan, maka datangilah majelis ilmi. Dengan mendatangi majelis ilmi, Insya Allah hati kita menjadi tenang. Bisa jadi apa yang disampaikan oleh guru ngaji kita atau oleh orang-orang yang sholeh, sesuai dengan keadaan hati kita pada saat itu. Dan semua itu, bisa dijadikan obat penyejuk buat hati kita.
Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa :
”Dekatkanlah kamu dengan orang-orang yang sholeh maka hatimu akan tenang”
Tidak hanya itu saja, Allah akan memberikan Rahmat-Nya pada kita dan kita akan dikelilingi oleh Malaikat-Malaikat. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar. Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wa sallam bersabda :
”… Dan tidaklah orang-orang berkumpul pada salah satu dari rumah-rumah Allah Ta’ala (masjid-masjid) sedang mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka, melainkan akan turun ketenangan kepada mereka serta diliputi oleh Rahmat dan mereka akan dikelilingi oleh para Malaikat…”. (HR. Muslim)
Subhanallah!!
Itulah balasan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencari dan mendatangi atau berkumpul dengan orang-orang yang sholeh untuk mengkaji ilmu-ilmu Allah. Akan lebih baik lagi apabila apa yang sudah kita dapatkan, kita bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sudahkah kita meluangkan waktunya untuk itu ?
****
Saya menulis ini, sekaligus untuk mengingatkan diri saya. Akhir-akhir ini, saya terlalu sibuk dengan urusan diri sendiri sampai-sampai nggak sempat meluangkan waktu untuk mencari dan mendatangi majelis ilmi. Oleh karena itulah, saya ingin mengajak para pembaca, para pencinta dunia maya, sahabat-sahabat pena, dan siapa saja yang ingin bergabung agar saling mengingatkan, saling menguatkan dan saling mendoakan.
Semoga apa yang tersaji di “Ngaji Yuk!” ini bermanfaat, bisa diambil hikmah dan pelajarannya buat siapa saja yang membacanya. Mohon maaf apabila ada sisi-sisi atau pendapat yang berbeda. Jadikanlah perbedaan itu indah pada akhirnya. Amin.
Wallahu a’lam bis shawab
Langganan:
Postingan (Atom)
